Refleksi Peringatan Nuzulul Qur’an 1443 H

 Pendahuluan

Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya karena Allah SWT memilih ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagaimana firman Allah dalam QS.Albaqarah ayat 185. Tidaklah mengherankan jika Ramadhan disebut juga sebagai Syahrul Qur’an dan Syahrul Huda. Di bulan ini selain menunaikan ibadah puasa, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dimana selama ramadhan beliau melaksanakan mudarasah atau berupaya memahami kandungan Al-Qur’anbersama Malaikat Jibril. Para ulama mengajarkan sejumlah cara untuk dapat mempelajari dan memahami Al-Quran diantaranya membaca arti dari setiap ayat Al-Qur’an itu sendiri, menggunakan kitab tafsir, dan mempelajari bahasa arab.

Dalam sejarah Indonesia, tafsir pertama Al-Qur’an yang secara utuh membahas satu mushaf dimulai oleh seorang ulama Aceh, Abdur Ra’uf As Singkel yang menghasilkan karya tafsirlengkap pertama dalam bahasa Melayu yang bertajuk Tarjuman Al Mustafid yang terbit pada abad ke-17. Pada abad ke-19, ulama kelahiran Banten Syekh Nawawi Al Bantani menulis tafsir dengan judul Tafsir Marah Labid atau yang lebih dikenal dengan Tafsir Munir. Kemudian pada abad ke-20 sejumlah karya terjemahan dan tafsir Al-Qur’an kembali dibuat, di antaranyaTafsir Al-Furqon karya A. Hassan (1928), Tafsir Hidayatur Rahman karya K.H. Munawar Chalil (1935), Tarjamat Al-Qur’anul Karim karya Mahmud Yunus (1938) Tafsir Qur’an Bahasa Indonesia karya Mahmud Azis (1942), Tafsir Al-Qur’an oleh H. Zainuddin Hamid dkk. (1959), Tafsir Al-Qur’anul Hakim karya H.M. Kasim Bakry dkk. (1960), Tafsir Al Azhar karya Hamka (1966), Tafsir Al Bayan dan Tafsir An Nur karya Hasby Ash Shidieqy (1973),Alquran dan Tafsirnya yang diterbitkan Departemen Agama RI tahun 1972 terakhir Tafsir Al Mishbah karya Quraish Shihab (2000).

Dalam perkembangannya terdapat terobosan baru tafsir atau terjemah Al-Qur’an yang dilakukan oleh seorang sastrawan Indonesia, Hans Bague Jassin yang lebih dikenal dengan H.B. Jassin. Sosok yang mendapat julukan Paus Sastra Indonesia ini telahmenghasilkan dua karya  terkait penerjamahan Al-Qur’an yang pertama berjudul Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia(1978) sebuah terjemahan puitis Al-Qur’an disususul kemudian Al-Quran Berwajah Puisi (1993)sebuah mushaf dengan layout atau tipografi puitis. Atas ijtihadnya tersebut, menjadikan tokoh Gorontalo kelahiran 31 Juli 1917 termasuk dalamdaftar sejumlah tokoh pengkaji Al-Qur’an di Indonesia.

Kedekatan H.B.Jassin dan AlQuran

H.B. Jassin mengenal Al-Qur’an dari ayah dan neneknya. Ia sering mendengar sang nenek membacakan Al-Qur’an yang menurutnya begitu indah didengar. H.B.Jassin juga merasa jengkeljika adada’i  yang berkhotbah atau ceramah  menggunakan ayat alqurandengan cara ‘berteriak-teriak’. H.B.Jassin  tidak pernah mempelajari Bahasa Arab secara intensif dan hanya belajar saat menjadi mahasiswa di fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di tempat ini pula beliaubelajar terjemah Alquran,  menerjemahkannya, sekaligus belajar tulisan Arab melayu.

H.B. Jassin tergerak untuk mempelajari Al-Qur’an semenjak kematian  istrinya yang bernama Arsita, pada 12 Maret 1962. Seminggu sejak kematiannya, rumah duka dipenuhi kerabat, sahabat, dan para tetangga yang khatam membaca Al-Quran hingga juz tiga puluh. Di hari kedelapan rumah H.B.Jassinmenjadi sepi. Timbul dalam pemikirinnya, mengapa bukan dia sendiri yang membacakan Al-Qur’an untuk istrinya. Sejak saat  itulah, ia mulai membaca Al-Qur’an. Tidak ada satu hari pun yang ia lewatkan tanpa membaca Al-Qur’an.. Ke mana ia pergi, dibawa dan dibacanya kitab suci itu.Hal ini menjadikan H.B, Jassin tak pernah lepas dari Al-Quran.

Pada tahun 1969, salah seorang sahabatnya, Haji Kasim Mansur, memberinya The Holy Qur’an, Al-Quran terjemahan Abdullah Yusuf Ali. H.B.Jassin mengungkapkan bahwa terjemahan tersebut dirasanyayang paling indahdisertai keterangan-keterangan yang luas dan universal. Untuk menimbulkan kesan yang estetis, penyair mempergunakan irama dan bunyi. Bukan saja  irama yang membuai beralun-alun, tapi irama singkat melompat-lompat atau tiba-tiba berhenti mengejut untuk kemudian melompat lagi penuh tenaga hidup.

Sejak saat itu dalam diri H.B.Jassin semakin hari, muncul rasa ingin tahu. Ia mulai mempelajari makna dari apa yang ia baca. Awalnya, ia mempelajari terjemahan Al-Qur’an. Tidak puas dengan terjemahan ayat per ayat, akhirnya mempelajari makna kata demi kata. Sebagai seorang sastrawan yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap unsur-unsur sastra, bagi Jassin bahasa Al-Qur’an sangat indah. Ia menjelaskan bahwa bahasa Al-Qur’an sangat puitis. Setelah melakukannya selama sepuluh tahun, ia tergerak untuk menerjemahkan Al-Qur’an kedalam bahasa Indonesia.

Memahami Alquran Lewat Tafsir Puitis

Pada Tahun 1978, penerbit Djambatan menerbitkan Al-Qur’an terjemahan H.B. Jassin yang diberi nama Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia.Penyebutan kalimat Bacaan Mulia setelah Al-Qur’anul Karim sengaja diletakkan oleh H.B Jassin dalam karyanya tersebut  bedasarkan  pada dalil dalam Al-Qur’an surat Al-Waqi’ah ayat 77 yang berbunyi : Bahwa ini .sesungguhnya Bacaan yang mulia”. Berkenaan dengan usaha Jassin ini, ulama sekaligus sastrawan Buya Hamka memberikan tanggapan yang positif. Dalam sambutannya beliau menyampaikan: “Maka dapat dipahami jika H.B.Jassin  pada mulanya tertarik merenungkan Al-Qur’an, lalu tenggelam ke dalam keindahannya, lalu terjalin cinta kepada Tuhan karenanya, lalu timbul keinginan hendak turut berbakti kepada agama dengan menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia dalam bentuk kesusastraan yang Indah.”

Ditinjau dari aspek bahasa yang digunakan, terjemahan H.B. Jassin sama dengan karya H.O.S Tjokroaminoto, Ahmad Hasan dan  Mahmud Yunus, serta berbeda dengan sejumlah terjemahan yang menggunakan bahasa Jawa, Sunda, dan Bugis.Dari segi tulisan, H.B. Jassin menggunakan tulisan latin, bukan tulisan Pegon atau aksara Jawa. Meskipun begitu, terjemahan H.B. Jassin tetap memiliki perbedaan dengan Tjokroaminoto, Ahmad Hasan dan Mahmud Yunus. Ketiga tokoh tersebut menggunakan bahasa Indonesia dalam bentuk prosa, sementara Jassin menggubah terjemahannya dalam bentuk puisi.Sebenarnya H.B. Jassin bukanlah satu-satunya yang melakukan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bentuk puisi. Ahmad Bestari Asnin, Syaifuddin B., K.H.Isa Anshary, dan Muhammad Diponegoro sudah pernah melakukan hal serupa. Ahmad Bestari Asnin tidak bisa menyelesaikan terjemahannya karena beliau meninggal terlebih dahulu. Sementara kedua tokoh lainnya menerbitkanterjemahan puitis Al-Qur’an terhadap ayat-ayat pilihanbukan seluruh Al-Qur’an sebagaimana yang dilakukan oleh H.B.Jassin.

Dalam menyusun terjemahan Al-Qur’an, H.B. Jassin mempertimbangkan persajakan Indonesiayang menurutnya kaya dengan aneka ragam bunyi. Selain itu, tata letak juga menjadi pertimbangan dalam membuat suatu terjemahan yang lebih puitis. H.B. Jassin mencontohkan terjemahan surat Asy-Syu’raa ayat 36 tentang Fir’aun yang meminta pertimbangan pembesar Mesir masa itu dalam menghadapi Musa.“Mereka menjawab: Suruhlah tunggu (Musa) dan saudaranya, dan kirim ke kota-kota para tentara.”Ayat tersebutmenurut H.B.Jassinakan lebih bertenaga dan terasa mengancam jika disusun ulang menjadi:“Mereka menjawab: Suruhlah tunggu (Musa) dan saudaranya. Dan kirimkan tentara ke kota-kota.”Contoh lain yang menurutnya akan menimbulkan penghayatan yang lebih dalam secara audiovisual adalah perbedaan pilihan kata dari terjemahan Alquran pada umumnya. Ia mengambil contoh surat ash-Shaff ayat 2:“Mengapa kamu tidak mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” Kalimat tersebut bisa dipuitisasi menjadi: ‘Mengapa kamu katakan apa yang tiada kamu lakukan?”

Pada tahun 1993 H.B Jassinkembali menghadirkan karyanya “Al-Qur’an Berwajah Puisi”sebuah terjemahan kitab suci dengan tata letak yang tidak prosais.Menurut H.B.Jassin, Al-Qur’an yang beredar selama ini disusun dengan tata letak prosa. Hal ini dinilainya dapat mengganggu konsentrasi pembaca dalam merenungi isi dan arti suatu ayat. Yang dimaksud bentuk prosa adalah model penulisan ayat-ayat Al-Quran yang terpaku pada kepentingan memenuhi ruang bidang halaman yang telah ditentukan.. Al-Qur’an Berwajah Puisi merupakan kelanjutan dari karya pertamanya.  H.B. Jassin mengakui kekurangannya dalam kompetensi menerjemahkan Al-Qur’an. Oleh karenanya ia bersikap terbuka terhadap kritik dan saran seputar karya tersebut, yang akan di perbaiki pada cetakan berikut. Sejak saat itu, hari demi hari tidak ada yang ia lewatkan tanpa menulis Al-Qur’an.  Selain memperbaiki kesalahan-kesalahan pada penerjemahan dan menambah unsur puitiknya,H.B. Jassin  mulai menyusun tulisan Arabnya supaya sejajar dengan terjemahannya. H.B Jassin juga  melakukan penelitian terhadap bentuk cetakan-cetakan Al-Qur’an di sejumlah negara. Ia mendatangi sejumlah toko buku dan melihat cetakan Al-Qur’an. H.B.Jassin meyimpulkan bahwa Al-Qur’an memiliki bahasa puitik yang indah, namun sayangnya selalu ditulis dalam bentuk prosa.

Dilihat dari segi penulisan maupun modelnya, Al-Qur’an Berwajah Puisiberbeda dengan yang lainnya. Untuk teks Arab maupun terjemahannya disusun simetris dengan pola rata tengah yang mengikuti pola penulisan pada puisi. Dalam mushaf Al-Qur’an Berwajah Puisi menggunakan banyak bidang halaman. Sebab penulisan setiap baris bukan ditentukan bidang ruang di setiap halaman, tetapi ditentukan oleh isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis.

Hasrat menerjemahkan Al-Qur’an secara puitis dan prosaik ini ternyata harus berhadapan dengan nalar legalistikdari umat Islam. Kedua karya H.B.jassin Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia dan Al-Qur’an Berwajah Puisi ternyata menuai kontroversi publik. Bagi mereka yang pro,memandangini sebagai suatu karya yang patut diapresiasi karena telah memberikan sumbangsih kepada khazanah keislaman di Indonesia. Sementara pihak yang kontra memandang karya H.B Jassin tersebut merupakan sesuatu yang bid’ah dan dianggap mempermainkan agama.Banyak pihak meragukan kemampuan dan pengetahuan bahasa Arab Jassin. H.B.Jassin juga dikritik karena mengganti beberapa diksi yang telah umum terdapat dalam terjemahan Al-Quran.Mereka menulis surat kepada Menteri Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), meminta agar terjemahan tersebut dicabut dari peredaran. Akhirnya Penulisan al-Qur’an dengan format yang direncanakan oleh H.B. Jassin  ditolak oleh MUI dan Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Berbeda dengan yang lainnya Menristek RI Prof.Dr.BJ Habibie dan Ketua umum PBNU K.H. Abdurrahman Wahid justru memberi dukungan penuh terhadap ikhtiar H.B. Jassin menyusun Al-Qur’an Berwajah Puisi bahkan B.J Habibie memberikan sumbangan dana pribadinya sebesar 150 juta.Al-Qur’anul Karim Bacaan Muliakemudian dicetak untuk kedua kalinya olehYayasan 23 Januari 1942, yang didirikan oleh tokoh-tokoh Gorontalo yang ada di perantauan seperti B.J. Habibie, J.A. Katili, Thayeb Gobel, dr.Aloei Saboe, dan Ir. Ciputra.Cetakan kedua tersebut diterbitkan bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun H.B.Jassin yang ke-65.

Penutup

Imam Al-Ghazali pada abad ke-11 pernah menyampaikan: “Al-Quran jauh lebih diresapi sebagai ‘kitab hukum’ atau ‘kitab sejarah’ daripada ‘kitab sastrawi’ ilahiah yang dalam segi bahasa jauh lebih menggugah pikiran dan perasaan manusiaKarya H.B,Jassin berupa Al-Qur’an al-Karim Bacaan Muliadan Al-Qur’an Berwajah Puisi tidak lepas dari kecenderungan sastrawi yang dimiliki oleh H.B.Jassin sebagai pengaruh dari profesinya sebagai sastrawan. Kedua karya ini tidak jauh dari unsur puisi. Jika pada Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia unsur puisi berada pada bentuk terjemahan, maka pada Al-Qur’an Berwajah Puisi terletak pada layout dan tata letak penulisan Al-Qur’an. Tafsir puitis Al-Qur’anmerupakan wujud kesadaran religiusitas dari seorang H.B.Jassin yang muncul pada hari tuanya. H.B.Jassin pernah menyampaikan: “Kejadian ini sangat menggugah kesadaran saya akan arti hidup manusia dalam hidupnya yang singkat di dunia ini. Berbuatlah baik terhadap sesama manusia, bersabarlah, balaslah kejahatan dengan kebajikan, niscaya kejahatan akan berobah menjadi kebajikan”.Semoga kita bisa meneladani H.B.Jassin dalam memahami dan menghayati Al-Qur’an sebagai kitab suci pembawa petunjuk bagi seluruh umat manusia. Aamiin.

Penulis

Muhammad Isman Jusuf

Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia Provinsi Gorontalo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.