Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Pendahuluan

          Dalam rangka pengusulan calon pahlawan nasional asal Provinsi Gorontalo, Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Gorontalo telah melaksanakan sidang penetapan yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Gorontalo Dr.Drs.Idris Rahim,MM selaku pengarah dan Prof.Dr.Nani Tuloli, sebagai ketua TP2GD pada tanggal 16 Maret 2022. Setelah melalui serangkaian proses pemenuhan persyararatan sebagaimana yang diminta oleh peraturan perundang-undangan, maka TP2GD sepakat untuk menetapkan 2 tokoh Gorontalo yaitu Prof.dr.Aloei Saboe dan Dr(HC).Hans Bague Jassin sebagai calon pahlawan nasional yang akan diusulkan oleh pemerintah provinsi Gorontalo di tahun 2022 ini.

Khusus untuk Dokter Aloei Saboe, Pemerintah Provinsi Gorontalo sudah pernah mengusulkan nama beliau ke pemerintah pusat pada tahun 2021. Pada waktu itu jumlah usulan calon pahlawan nasional yang diterima oleh kementerian sosial ada 30 nama. Dari sejumlah nama yang masuk tersebut, hanya 12 calon pahlawan yang mememenuhi syarat untuk diverifikasilebih lanjut, salah satunya adalah Dokter Aloei Saboe dari Gorontalo. Berdasarkan rapat pleno TP2GP di Jakarta, Dokter Aloei Saboe termasuk salah satu dari 8 nama calon pahlawan nasional yang diusukan ke Menteri Sosial RI untuk diteruskan ke Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan selanjutnya diserahkan kepada Presiden RI untuk ditetapkan. Namun Dokter Aloei Saboe tidak termasuk dalam 4 nama yang ditetapkan Presiden sebagai pahlawan nasional tahun 2021. Olehnya maka pemerintah Provinsi Gorontalo di tahun 2022 kembali mengusulkan nama Dokter Aloei Saboe sebagai calon pahlawan nasional.

Pahlawan Nasional adalah anugerah atau gelar yang diberikan oleh pemerintah kepada seorang warga negara yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa sangat luar biasa kepada bangsa dan negara. Setiap peringatan hari pahlawan 10 November, pemerintah selalu mengagendakan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada sejumlah tokoh yang memenuhi syarat. Menurut data Kementerian Sosial RI hingga tahun 2021 ini tercatat ada 195 orang yang telah memperoleh pengakuan negara sebagai pahlawan nasional. Gorontalo baru memiliki satu orang tokoh yang diakui oleh negara sebagai pahlawan nasional yaitu Nani Wartabone (1907-1986) yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 2003 berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003. Dengan demikian hampir 18 tahun, Gorontalo belum ketambahan sosok pahlawan nasional, padahal Provinsi Gorontalo memiliki sejumlah tokoh yang layak untuk diusulkan sebagai calon pahlawan nasional diantaranya Aloei Saboe (1911-1987)  dan H.B.Jassin (1917-2000).

Interaksi Kedua Tokoh

          Berdasarkan penelusuran sejarah yang dilakukan oleh TP2GD, ternyata Aloei Saboe dan H.B.Jassin memiliki interaksi yang intens baik di masa sebelum kemerdekaan maupun setelah Indonesia merdeka. Salah seorang anggota TP2GD, Basri Amin, PhD dalam tulisannya “Dokter A.Saboe dan Doktor H.B.Jassin (Pahlawan sejak 82 Tahun Lalu)” yang pernah dimuat di harian Gorontalo Post Edisi Senin 31 Januari 2022, menyampaikan bahwa pada tahun 1939 setelah menamatkan pendidikan HBS di Medan, H.B.Jassin pernah singgah di Semarang dan menginap di rumah Aloei Saboe, yang saat itu betugas sebagai dokter pemerintah di Kota Semarang.  Ketika Aloei Saboe berkunjung ke Gorontalo, kembali H.B.Jassin berjumpa dengan beliau. Sewaktu Aloei Saboe menggelar pertemuan dengan para tokoh Gorontalo di HIS Muhammadiyah dalam rangka membicarakan penanggulangan penyakit kusta, H.B.Jassin yang saat itu bekerja sebagai voluntair di kantor asisten residen Gorontalo turut hadir. Hasil pertemuan tersebut oleh H.B.Jassin dilaporkan dan diulas dalam majalah keinsyafan edisi Oktober 1939.

Interaksi antara Aloei Saboe dan H.B.Jassin kembali terjalin ketika keduanya bersama sejumlah tokoh Gorontalo perantauan seperti John Ario Katili, Thayeb Gobel, B.J.Habibie, J.S.Badudu, Piola Isa, Ciputra, Ary Pedju, Karim Kono, H.A.Biki dan Idrak Jassin bersepakat untuk mendirikan Yayasan 23 Januari 1942 yang berfokus untuk memberikan sumbangsih aktif bagi pembangunan nasional maupun daerah yang disertai dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia baik yang di tanah leluhur Gorontalo maupun di perantauan. Pada tahun 1978, H.B.Jassin menerbitkan karyanya yang berjudul Al-Qur’an al-Karim Bacaan Mulia. Terjemahan Alquran ini menuai kontroversi publik dimana ada yang pro dan ada pula yang kontra. Aloei Saboe dan Yayasan 23 Januari 1942 memberikan dukungan kepada H.B.Jassin atas karyanya ini bahkan buku ini dicetak untuk yang kedua kalinya oleh yayasan 23 januari 1942 dan diterbitkan bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun H.B.Jassin yang ke-65 tahun. Pada kesempatan tersebut Aloei Saboe memberikan sambutan mewakili Yayasan 23 Januari 1942.

Persamaan Kedua Tokoh

Dilihat dari latar belakang keilmuan, ada perbedaan antara Aloei Saboe dan H.B,Jassin. Aloei Saboe merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya (Sebelumnya bernama NIAS) dan berkiprah sebagai dokter lewat peran Five Stars Doctor menurut organisasi kesehatan dunia, sementara H.B.Jassin adalah lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta dan berkiprah sebagai sastrawan sekaligus kritikus sastra. Namun ternyata ada sejumlah persamaan yang dimiliki oleh Aloei Saboe dan H.B.Jassin.

Dalam tulisannya, Basri Amin menyampaikan karakter yang menyamakan Aloei Saboe dan H.B.Jassin adalah ternyata keduanya menyukai korespondensi dan dokumentasi. Aloei Saboe menjalani korespondensinya dengan memperkaya sejarah perjuangan bangsa di daerah seperti gerakan patriotik 23 januari 1942, perjuangan kemerdekaan dan peran rumah sakit kusta yang beliau dirikan di masa pergolakan PERMESTA. H.B.Jassin jauh lebih berpengaruh dan melambung dalam bidang ini karena memang menjadi bidang utamanya selama ini. Beliau bahkan mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) yang menyimpan arsip-arsip kesustraan nasional maupun internasional dari berbagai sumber.

Persamaan lainnya bahwa kedua tokoh ini pernah mengenyam pendidikan di HIS Gorontalo dan MULO Tondano. Keduanya juga berkiprah di luar Gorontalo, Aloei Saboe lebih banyak berkiprah di Bandung dan H.B.Jassin berkiprah di Jakarta. Keduanya pernah berkiprah di perguruan tinggi dimana Aloei Saboe menjadi Guru Besar Kesehatan Masyarakat di Universitas Padjajaran Bandung dan H.B.Jassin menjadi Lektor dalam mata kuliah sejarah kesusateraan Indonesia modern dan ilmu perbandingan kesusastraan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta. Keduanya pernah menulis sejumlah buku tentang keislaman. Aloei Saboe menulis buku “Hikmah Kesehatan Dalam Sholat”, ”Hikmah Kesehatan Dalam Puasa”, ”Islam dan Ilmu Kedokteran”, ”Pendekatan Ilmiah Tentang Eksistensi Tuhan Dan Makhluk Ciptaannya”, ”Aku di Dunia dan Akhirat” ,serta ”Nabi Muhammad SAW dalam Kitab Injil Barnaba”. H.B.Jassin sendiri menulis buku ”Al-Quran Al Karim Bacaan Mulia” dan ”Al-Quran Berwajah Puisi”.

Keduanya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap tanah leluhur Gorontalo. Sewaktu di Bandung, Aloei Saboe menjadi Ketua Yayasan Warga Gorontalo Bandung. Yayasan yang  didirikan bersama dengan Ny.R.A. Habibie (Ibunda Prof.Dr.B.J.Habibie) dan Prof.Dr.J.S.Badudu ini juga telah banyak membantu putera-puteri Gorontalo yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi yang ada di Kota Bandung. Disamping itu pula yayasan pernah menyerahkan bantuan 2 unit traktor dari masyarakat Gorontalo di Jawa Barat kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kodam VI Siliwangi. Sewaktu studi di Universitas Yale Amerika Serikat, H.B.Jassin diminta oleh Professor Dyen untuk mengajarkan bahasa Gorontalo kepada para professor dan mahasiswa Amerika Serikat. Beliau mengajar 4 jam dalam seminggu sepanjang bulan Februari sampai Mei 1959. Bahasa Gorontalo yang beliau ajarkan, dianalisis menurut keilmuan bahasa dalam diskusi di ruang kuliah. Di akhir hayatnya, Kedua tokoh ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Kiprah Perjuangan Kedua Tokoh

          Pada masa pergerakan nasional dimana para pejuang aktif terlibat dalam organisasi pergerakan untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan patriotisme, Aloei Saboe aktif sebagai anggota Jong Islamieten Bond (1926), Anggota Indonesia Moeda (1930) dan Anggota Partai Nasional Indonesia/PNI (1935). Adapun H.B.Jassin pada tahun 1939 menjadi voluntair di Kantor Asisten Residen Gorontalo dan pada akhir Januari 1940 pindah ke Jakarta menerima tawaran Sutan Takdir Alisjahbana untuk bekerja sebagai redaktur di Balai Pustaka. Di masa itu, H.B.Jassin berperan dalam mensirkulasi terbitan-terbitan kebangsaan yang memuat pemikiran para tokoh nasional.

          Pada masa pendudukan Jepang, Aloei Saboe ditangkap oleh tentara Jepang dan dijebloskan di penjara Teling, Manado pada tahun 1943. Di dalam penjara beliau diinterogasi tentara Jepang dan dipaksa untuk mengakui menjadi mata-mata sekutu. Oleh karena tidak mau mengakui hal tersebut, maka selama di penjara, beliau mengalami penyiksaan-penyiksaan. Seluruh siksaan dari tentara Jepang tersebut beliau jalani dengan sabar dan tabah sampai akhirnya beliau dibebaskan dari penjara dan kembali ke Gorontalo pada tahun 1945. Pada masa pendudukan Jepang, H.B.Jassin bersama sejumlah tokoh seperti Usmar Ismail, Abu Hanifah, Rosihan Anwar dan Cornel Simanjuntak mendirikan kelompok Sandiwara Penggemar Maya. Melalui sandiwara penggemar maya, H.B.Jassin bersama para budayawan diam-diam menyelipkan  perlawanan terhadap sikap fasis Jepang melalui lakon yang dibawakan di atas panggung  termasuk menyelipkan secara halus ide kemerdekaan yang dicita-citakan oleh bangsa. Keberadaan kelompok sandiwara ini merupakan wadah bagi para pemuda Indonesia yang tidak mau diatur oleh Jepang untuk mengembangkan bakat seni dan daya ciptanya termasuk tidak mau mengikuti patron bersandiwara yang ditentukan oleh Jepang.

Pada masa revolusi fisik, dimana para pejuang angkat senjata di medan perang melawan penjajah, Dokter Aloei Saboe ikut bergabung dalam laskar berani mati yang melakukan penyerangan ke markas tentara NICA di Gorontalo. Selama kurun waktu 1946-1947, beliau mengirim sejumlah obat-obatan dan alat kesehatan yang berasal dari dump perang USA dan Australia kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku Menteri Pertahanan RI yang berkedudukan di Yogyakarta untuk membantu perjuangan kemerdekaan di Pulau Jawa.  Pada saat terjadi agresi militer Belanda pada tahun 1947, sejumlah kantor milik pemerintah Republik Indonesia telah diduduki Belanda termasuk kantor Balai Pustaka. Semua pegawai diminta untuk bekerja dengan Belanda. Namun H.B.Jassin bersama sejumlah orang menolak bekerjasama dengan Belanda dan menunggu keputusan pemerintah republik dari Yogyakarta.

Pada masa kemerdekaan, Aloei Saboe terpilih sebagai anggota parlemen Negara Indonesia Timur (NIT). Di parlemen inilah beliau bersama dengan sejumlah anggota parlemen ikut menandatangani dan menyerukan mosi pembubaran NIT, dimana NIT harus dileburkan ke dalam NKRI yang sesuai dengan jiwa proklamasi 17 Agustus 1945. Sewaktu meletusnya PERMESTA pada 1958, Aloei Saboe ikut terlibat dalam membantu operasi penumpasan PRRI/PERMESTA di Gorontalo. H.B.Jassin bersama 13 sastrawan Indonesia yang pemikirannya tidak sejalan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), mendeklarasikan Manifesto Kebudayaan yang merupakan konsep kebudayaan yang mengusung humanisme-universal dan mengutamakan bentuk kesenian yang mengabdi pada kepentingan rakyat. Isi dari Manifesto Kebudayaan sendiri secara terang-terangan menolak jargon Lekra yang berbunyi “politik sebagai panglima”.

Kedua tokoh Gorontalo ini telah mengangkat harkat dan martabat bangsa di level dunia. Aloei Saboe telah membawa nama harum Indonesia di forum internasional yang  ditandai adanya prestasi menjadi juara zone Asia pada pertandingan world bridge yang berpusat di New York pada tahun 1935. Menjadi juara bridge saat bangsa Indonesia sedang dijajah Belanda telah menggugah bangsa lain untuk berpikir bahwa bangsa Indonesia telah mempunyai kemampuan berpikir setaraf dengan bangsa-bangsa yang telah maju. Adapun H.B.Jassin memperoleh hadiah Martinus Nijhoft dari Prins Bernhard Fonds untuk terjemahan Max Havelaar, karya Multatuli, di Belanda (1973), hadiah Ramon Magsaysay dari Pemerintah Filipina (1987) dan ASEAN Cultural Award for Literature dari Singapura (1990).

Atas jasa-jasanya kepada bangsa dan Negara, Aloei Saboe dan H.B.Jassin mendapat anugerah tanda jasa dari pemerintah pusat. Aloei Saboe pernah memperoleh anugerah Bintang Gerilya (1958), Satiyalencana Peristiwa Aksi Militer I(1958), Satyalencana Peristiwa Aksi Militer II  (1962), Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan(1967), Satyalencana Keamanan (1965), Satyalencana Penegak (1969, Satiyalencana Peringatan Perdjuangan Kemerdekaan (1969) dan Satiyalencana Karyasatya (1969). H.B.Jassin menerima sejumlah penghargaan diantaranya Satyalencana Kebudayaan (1969), piagam penghargaan dari Pimpinan Pusat Angkatan Muda Sulawesi Utara (AMSUT) (1974), anugerah Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia (1975), Piagam Hadiah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1983), Bintang Mahaputra Nararya  (1994), hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud (1994), penghargaan dari ICMI sebagai tokoh budaya Islam (1995) dan penghargaan sebagai Tokoh Perbukuan Nasional (1996).

Pemerintah dan masyarakat Gorontalo juga memberikan penghargaan kepada Aloei Saboe dan H.B.Jassin yang telah menunjukkan integritas moral yang tinggi dan menjadi teladan umat. Nama Aloei Saboe diabadikan sebagai nama jalan di Kota Gorontalo dan Kabupaten Boalemo serta nama Rumah Sakit Umum Daerah Kota Gorontalo, sedangkan nama H.B.Jassin selain menjadi nama jalan di Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango, juga diabadikan menjadi nama Perpustakaan Daerah Provinsi Gorontalo. Dewan Adat 5 Kerajaan (Pohala’a) di Gorontalo memberikan anugerah gelar adat pulanga bagi keduanya. Aloei Saboe mendapat pulanga “Taa Loo Tinepa Lipu” (putra terbaik pengangkat derajat negeri) sedangkan H.B.Jassin memperoleh pulanga “Ti Molotinepa Wulito” (Sang Putra Terbaik Bangsa yang Menguasai Bahasa).

Penutup

Dari uraian di atas terlihat bahwa Aloei Saboe dan H.B.Jassin memenuhi persyaratan sebagai calon pahlawan nasional menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan 26. Kelayakan kedua tokoh sebagai calon pahlawan nasional telah dituangkan oleh TP2GD dalam buku biografi keduanya yaitu “Menjadi Bangsa Terhormat Prof.dr.Aloei Saboe” (2021) dan “Mencerdaskan Bangsa H.B.Jassin” (2022) yang merupakan salah satu aspek persyaratan pengusulan calon pahlawan nasional ke kementerian sosial RI. Bagi masyarakat Gorontalo, penganugerahan gelar pahlawan nasonal bagi Aloei Saboe dan H.B.Jassin akan menumbuhkan kebanggaan, keteladanan, kepatriotan, sikap kepahlawanan dan semangat kejuangan. Oleh karena itu maka ikhtiar pengusulan kedua tokoh tersebut sebagai calon pahlawan nasional dari Gorontalo harus didukung oleh seluruh stakeholder Gorontalo baik yang ada di Provinsi Gorontalo maupun yang memegang otoritas di level pusat. Tak lupa kita doakan bersama semoga Prof.dr.Aloei Saboe dan Dr (HC) Hans Bague Jassin akan dipilih dan ditetapkan oleh Presiden menjadi pahlawan nasional di tahun 2022. Aamiin…Aamiin…Yaa Rabbal’aalamiin.

Muhammad Isman Jusuf

Anggota Tim Peneliti Dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD)

Provinsi Gorontalo

 

 

 

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.