Personel Polres Pohuwato memperlihatkan barang bukti berupa senjata tajam (Sajam) yang diamankan pada saat insiden pemblokiran jalan.

Jurnal Celebes.id, POHUWATO – Terkait dengan pemberitaan yang beredar, dimana telah dilakukan penganiayaan oleh oknum TNI-Polri terhadap masyarakat, langsung mendapatkan tanggapan dari Kapolres Pohuwato, AKBP Joko Sulistiono,S.H, S.I.K, M.H.

Ditegaskan Alumnus Akpol 2003 ini, saat ini pihaknya sedang focus untuk menurunkan alat berat di wilayah pertambangan. Di waktu yang bersamaan, tepatnya pada Jumat (05/11/2021) sekitar pukul 18.00 Wita, Satuan Intelkam yang dipimpin langsung oleh Kasat Intel, AKP Georgie Absalom Sakul,S.I.K, melakukan monitoring sekaligus pendampingan terhadap perusahaan jasa penarikan, PT Resky Syifa Global, yang merupakan perusahaan eksternal dari PT BFI Indonesia, Cabang Manado, dalam melakukan kegiatan penarikan terhadap satu unit alat berat jenis Excavator merek Caterpillar-320GC, dengan nomor seri ZBT00843, nomor rangka ZBT00843, warna kuning, tahun pembuatan 2019.

“Lokasi penarikan alat beratnya berada di pertambangan emas tanpa izin (PETI), Botudulanga, tepatnya di Dusun Poladingo, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, dan kami dari Polri hanya melakukan monitoring pada saat itu,” ujarnya.

Pada saat itu kata Kapolres Pohuwato, dalam penarikan tersebut, digunakan satu truck jenis tronton dan dibantu dua alat berat merek Dossan serta Hyundai, karena kondisi alat berat yang hendak dijemput sudah dalam kondisi rusak, dimana sudah tidak ada layar monitor serta kabel-kabel telah banyak yang terputus. Akibatnya, alat berat tersebut tidak bisa dihidupkan, sehingga sekitar pukul 03.30 Wita, alat berat itu kemudian diangkut untuk dibawa ke daerah Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Ketika hendak melintas di Desa Taluduyunu, Kecamatan Buntulia, rombongan dihadang oleh sekelompok masyarakat yang diduga digerakkan dan dikooordinir oleh saudara Yunus Radjak beserta rekan-rekannya.

“Jadi pada saat itu ada puluhan orang yang menghadang. Mereka menggunakan mobil, sepeda motor serta bangku yang terbuat dari kayu, untuk menghadang jalan. Nah, anggota saya pada saat itu sudah berupaya untuk melakukan langkah persuasive dan komunikatif terhadap kelompok masyarakat tersebut. Namun tetap saja petugas tidak diberikan jalan. Bahkan beberapa orang dari masyarakat yang melakukan penghadangan, sudah dalam kondisi mabuk serta memaki petugas yang sedang berkomunikasi,” jelasnya.

Dengan kondisi seperti itu kata mantan Koorspripim Kapolda Gorontalo ini, karena melihat tidak ada niat baik dari masyarakat, anggota kemudian berusaha untuk meminggirkan kendaraan yang terparkir melintang di tengah jalan, serta mengangkat meja, kursi dan balok kayu. Upaya ini kemudian dihalang-halangi oleh saudara Yunus Radjak, Caco, Gilang serta perempuan bernama Resky Yuliani Tantu. Pada saat tarik-menarik antara petugas dengan sekelompok masyarakat, tiba-tiba saja beberapa orang masyarakat telah memegang balok kayu serta memegang senjata tajam (Sajam) berupa badik. Melihat hal itu, anggota langsung menghampiri lelaki yang bernama Gilang, guna mengamankan Sajam tersebut. Dalam aksi itu, sempat terjadi dorong-mendorong, bahkan Kasat Intelkam sempat dibanting oleh warga, hingga jatuh ke aspal jalan. Tak berselang lama, akhirnya Sajam yang dipegang oleh saudara Gilang berhasl direbut dan diamankan oleh anggota. Sedangkan masyarakat lainnya, yang memegang balok serta Sajam, melarikan diri.

“Pada saat itu, anggota di lapangan hanya ingin mengamankan Sajam yang dimiliki oleh masyarakat, karena dapat membahayakan diri anggota dan juga masyarakat sekitar. Personel kami pun tidak mengetahui kalau perempuan yang sedang dalam kondisi hamil, ikut pula dalam kegiatan pemblokiran jalan tersebut. Tidak ada pula seret-menyeret terhadap perempuan pada saat itu,” ungkapnya.

Oleh karena itu kata AKBP Joko, terkait dengan persoalan ini, pihaknya masih akan melakukan penyelidikan mendalam, khususnya persoalan kepemilikan senjata tajam (Sajam).

“Ada banyak saksi yang melihat, baik itu penanggungjawab dari pihak perusahaan, kuasa hukum, serta petugas dari TNI-Polri. Kami pada dasarnya berupaya untuk meminimalisir terjadinya persoalan dan bukan untuk bertindak kasar seperti yang diberitakan,” pungkasnya. (Jurnal 01)

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *