Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Refleksi Hari Dokter Nasional

 

Pendahuluan

Aloei Saboe merupakan salah seorang tokoh Gorontalo yang berjuang di segala medan dan waktu.  Beliau adalah seorang dokter, namun kiprahnya tidak hanya di sektor kesehatan semata, melainkan lintas sektoral dan multidisipliner. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan, tokoh kelahiran Gorontalo 11 November 1911 ini ikut terlibat bersama para pejuang lainnya bahkan beberapa kali ditangkap dan diasingkan oleh tentara Jepang maupun Belanda. Tercatat beliau dipenjara sebanyak 4 kali, ditawan di kamp militer  Belanda 2 kali, menjadi tahanan kepolisian Belanda 3 kali, dikarantina di atas kapal perang Belanda 2 kali dan diasingkan ke tempat terpencil 3 kali. Majalah Suara Marhaenis terbitan Partai Nasional Indonesia (PNI) edisi 6-15April 1957, secara khusus menampilkan kisah perjuangan fisik, penyiksaan, dan penderitaan yang dijalani oleh dokter AloeiSaboe di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tulisan tersebut diberi judul: “Dokter Aloei Saboe, Dokter yang tak punya muka dan paling betah di penjara”. Disebut tidak punya muka karena akibat penyiksaan yang dialami oleh Dokter Aloei saboe membuat wajah dan tubuhnya penuh lebam, bengkak, luka, dan lemas sehingga wajah Dokter Aloei Saboe  nyaris tak bisa dikenali.

Dipenjara di masa pendudukan  Jepang

Pada 3 Februari 1943 s/d 5 Agustus 1945 beliau ditangkap tentara Jepang untuk kemudian dipenjarakan di Kemp “Interniren” Teling, Manado. Diceritakan Penyiksaan-penyiksaan yang beliau alami di antaranya: Badan sampai batas leher ditanam dalam pasir di pantai Manado dan hanya kepala yang kelihatan di atas tanah. Apabila datang ombak, wajahnya dipenuhi pasir yang tidak dapat dibersihkan dengan tangan, karena tangannya ditanam bersama badan. Dengan kaki dan tangan terikat pada buritan perahu, berkali-kali beliau ditarik ke arah laut hingga kurang lebih 50 meter dari daratan, dan kemudian secara perlahan-lahan ditarik kembali ke pantai. Dengan badan yang dilumuri gula, beliau diikat terbalik dengan kaki di atas, di sebuah pohon yang banyak semut sehingga seluruh tubuh hingga ke lubang hidung dan telinga dikerumuni semut. Setelah diturunkan dari pohon, beliau dipukuli hingga wajahnya babak belur. Beliau juga pernah dipenjara pada ruangan kecil yang berukuran kira-kira 1×1,5 m dengan kepala diikat sehelai kain. Biasanya dengan lilitan kain di kepala ini menunjukan bahwa yang bersangkutan akan menjalani hukuman mati atau tembak. Namun Allah SWT belum menentukan ajalnya sampai akhirnya beliau dibebaskan  oleh tentara Jepang.

Dipenjara di masa pendudukan Belanda

Pada 4 Desember 1945 sampai 25 Desember 1945 Dokter Aloei Saboe dipenjarakan di Markas Tentara NICA karena mengobati dan merawat 6 orang pejuang laskar berani mati yang terluka parah setelah melakukan penyerangan terhadap pos tentara NICA. Pada 25 Desember 1945 beliau dibebaskan dan dikenakan tahanan rumah. Selama berstatus sebagai tahanan rumah, beliau mengadakan rencana untuk melakukan penyerangan dan penangkapan terhadap komandan tentara NICA bersama laskar berani mati. Namun, rencana ini tercium oleh tentara NICA, sehingga beliau ditangkap dan diasingkan di atas kapal Piet Hein yang kala itu berada di pelabuhan Gorontalo. Beberapa waktu kemudian beliau dipindahkan ke kapal Yan Van Brackel. Di atas kapal terpedo ini, beliau menerima penyiksaan sangat berat, di antaranya dijemur dengan berbaring tanpa baju di atas plat/lempengan baja yang panas akibat teriknya matahari, tanpa diberi makan hingga beliau tidak sadarkan diri. Tercatat Dokter Aloei Saboe dikarantina di atas kedua kapal perang tersebut  sejak 12 Februari 1946 sampai 8 Maret 1946.

Pada 8 Maret 1946, dengan penjagaan ketat tentara NICA yang dipimpin Mayor Weber, Dokter Aloei Saboe diterbangkan ke Balikpapan. Dalam perjalanan selama empat jam itu, beliau ditempatkan pada ruang khusus di bagian belakang pesawat yang sebagian lantainya dibuat dari kaca tebal, sehingga pandangan ke bawah terlihat secara transparan. Kelak di kemudian hari, pengalaman di pesawat terbang yang lantainnya transparan ini telah menimbulkan trauma kepada beliau untuk berpergian dengan pesawat terbang. Selama di Balikpapan, beliau menjadi tahanan kepolisian di daerah Manggar. Oleh karena penjagaan terhadap dirinya tidak terlalu ketat, maka Dokter Aloei Saboe berkesempatan untuk bergabung dengan para pejuang dari Balikpapan yang pada saat itu sedang merencanakan penyerbuan pada Kemp Bronsbeek, daerah tempat tinggal tentara Belanda. Walaupun penyerbuan itu cukup berhasil, namun beberapa pejuang dapat ditangkap. Saat diinterogasi tentara Belanda, mereka mengakui bahwa Dokter Aloei Saboe ikut serta merencanakan penyerbuan sehingga diputuskan oleh NICA untuk memindahkan Dokter Aloei Saboe ke Makasar.

Pada 26 Maret 1946 dengan pengawalan NICA, Dokter Aloe Saboe dipindahkan ke Makassar dengan menggunakan kapal perang “Van Heutsz” dan dijebloskan ke penjara Port Rotterdam. Beliau sempat diinterogasi oleh overste Dr. Bijlmer yang menawarkan bekerja sama NICA dan akan menjadikan Dokter Saboe sebagai Inspektur van Gzondheit Geroote Oost. Namun penawaran tersebut ditolak oleh Dokter Aloei Saboe sehingga beliau dipindahkan menjadi tawanan di KIS-Kemp  yang merupakan markas tentara Westerling. Selama berada di KIS-Kemp, beliau tetap berkomunikasi dengan para pejuang. Pada suatu ketika seorang petugas pembagi makanan tertangkap oleh penjaga ketika sedang menyelipkan sebuah surat dari Gubernur Sulawesi Dr. G.S.S.J Ratulangi yang ditujukan kepada Dokter Aloei Soboe. Surat itupun disita oleh tentara NICA padahal isinya hanya menanyakan tentang kondisi di Gorontalo. Akibatnya beliau dipindahkan kembali ke Balikpapan dengan kapal laut bernama “Bos”.

Pada 16 April 1946, Dokter Aloei Saboe mendekam ulang di markas polisi Belanda ‘Kilat’ sampai akhirnya pada 24 April 1946 markas tersebut diserbu dan dibakar oleh tentara pejuang Hizbullah. Beliau kemudian dipindahkan dan ditahan di markas polisi tanah Grogot. Tanggal 30 April 1946, markas ini pun diserbu dan dibakar oleh pasukan Hizbullah. Akhirnya beliau diasingkan di Tanjung Aru sebuah daerah yang sangat terpencil dan hampir tidak berpenduduk. Pada 16 Mei 1946, Dokter Aloei Saboe dihadapkan pada pengadilan militer di Balikpapan dengan tuduhan berusaha menumbangkan pemerintahan Belanda dan oleh pengadilan militer beliau divonis sebagai tawanan perang dan harus menjalani pengasingan, di Kemp Prisoner of War Pulau Morotai

Pada 20 Mei 1946 Dokter Aloei Saboe mulai menjalani pengasingan di Pulau Morotai. Di dalam kamp ini, beliau bertemu dengan rekan seperjuangan dari Gorontalo yaitu Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo. Oleh karena  di dalam kamp  para tahanan sering menerima perlakuan kasar dari para penjaga, maka terjadilah pemberontakan dalam kemp di Morotai ini. Akhirnya beliau diasingkan ke Kampung Daruba, suatu tempat terpencil di Pulau Morotai dan dipekerjakan pada rumah sakit setempat. Di sini beliau mendapat kunjungan dari Sultan Ternate Muhammad Djabir Syah, yang merangkap Residen Maluku Utara. Atas bantuan Sultan Ternate ini, maka istri dokter Saboe beserta tiga anaknya didatangkan dari Gorontalo dan diberi tempat tinggal berupa tenda di Kampung Daruba.

Pada Februari 1948, Dokter Aloei Saboe dipindahkan ke Tilamuta dan dikenakan tahanan rumah dengan pengawasan tentara Belanda yang dipimpin oleh Kapten Smith. Selama pengasingan di Tilamuta beliau ditugaskan di Rumah Sakit Tilamuta dan bersama dengan para pearawat Rumah Sakit membangun dua buah tugu peringatan yang berlokasi di Tilamuta. Akhirnya Berdasarkan perjanjian Roem-Royen yang mencantumkan pembebasan untuk seluruh tawanan dan tahanan politik, maka Dokter Aloei Saboe termasuk yang dibebaskan dari tahanan rumah dan tidak lagi berada di bawah pengawasan NICA.

Penutup

Dari uraian di atas, terlihat bahwa Dokter Aloei Saboe merupakan sosok pejuang yang tak pantang menyerah. Walaupun berulang kali ditahan dan dipenjarakan, tidak menyurutkan semangatnya untuk memperjuangkan Indonesia merdeka. Spirit perjuangan Dokter Aloei Saboe dan para dokter pejuang lainnya harus menjadi pemacu dan pemicu para dokter Indonesia khususnya di Gorontalo untuk memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna kepada masyarakat sebagai salah satu wujud perjuangan dokter dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Momentum Hari Dokter Nasional harus dijadikan sarana untuk meningkatkan peran dokter Indonesia yang tidak hanya sekadar sebagai agent of treatment, tetapi juga harus berkiprah sebagai agent of development sekaligus agent of change bagi masyarakat, bangsa dan Negara. (*)

Penulis

Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Dosen Program Studi Kedokteran UNG

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Gorontalo

 

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *