Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Pendahuluan

Olahraga bridge telah membawa nama harum Indonesia di forum internasional yang  ditandai adanya prestasi bridge pada tahun 1935 ketika dua pasangan Indonesia yaitu Alex Andu-Aloei Saboe dan Nico Zina-Gustaf Dungus dari NIAS club (klub sekolah kedokteran Surabaya) menjadi juara zone Asia di Surabaya pada pertandingan world bridge yang berpusat di New York dan pimpinannya ketika itu Elly Cubertson, seorang tokoh olahraga bridge dunia. Salah seorang anak bangsa yang mengukir prestasi olahraga bridge dunia tersebut adalah Dokter Aloei Saboe dari Gorontalo yang telah dianugerahkan gelar adat “Taa Loo Tinepa Lipu” atau “Putra Terbaik Pengangkat Derajat Negeri”oleh para pemangku adat negeri Gorontalo.

Olahraga Bridge

Bridge adalah permainan kartu yang mengandalkan baik kemampuan bermain maupun keuntungan. Empat pemain duduk saling berhadapan dengan pasangannya di satu meja. Permainan ini dimulai dengan dibagikannya satu set kartu (52) secara acak ke semua pemain, lalu dilakukannya perebutan kontrak oleh kedua pasangan melalui lelang. Misi dari pasangan yang memenangkan lelang adalah memenuhi kontrak sesuai penawarannya atau bahkan melebihinya, sedangkan pasangan yang lain berusaha agar kontrak tersebut gagal dipenuhi. Kontrak adalah pernyataan oleh salah satu pasangan bahwa pihak mereka akan mengambil sejumlah (atau lebih) trik. Sedangkan, yang dimaksud dengan trik ini adalah kemenangan pada satu putaran kartu dari empat pemain. Karena jumlah kartu ada 52 dan tiap-tiap pemain memegang 13 kartu, maka terdapat 13 trik dalam satu kali permainan. Adapun lelang ini menentukan pihak yang menyatakan, the strain of trump dan lokasi pemimpin untuk kartu di tangan.Turnamen bridge biasanya diatur untuk memaksimalkan penggunaan kecakapan satu tim dan meminimalkan pengaruh keberuntungan. Bridge telah dibandingkan dengan catur sebagai permainan atau olahraga yang menggunakan akal sehat.

Permainan ini dinamakan bridge mengambil dari Galata Bridge (Jembatan Galata) yaitu sebuah. jembatan familiar yang menyeberangi Golden Horn, pelabuhan Instanbul. Di seberang jembatan ini terletak di kedai kopi, dimana semua serdadu inggris disebutkan bermain bridge di lokasi ini ketika perang Krim (1853-1856). Bridge pertama kali dimainkan pada tanggal 1 Nopember 1925 diatas kapal uap ‘Finland’ dalam perjalanan dari San Fransisco ke New York. Atas permintaan Harold Vanderbilt mereka menguji tabel skor yang dirancangnya. Kejuaraan kesatu dipertandingkan pada tahun 1928 dan bagi Vanderbilt ini merupakan suatu penghargaan bahwa tabel yang dirancangnya itu, masih tetap dipakai dengan tidak banyak penyesuaian. Pada tahun 1930, Ely Culbertson, seorang Amerika, mempopulerkan bridge dengan mengembangkan sebuah sistem yang sampai kini masih dimainkan. Belum didapatkan kepustakaan yang  menjelasan semenjak kapan permainan Bridge masuk ke Indonesia. Namun dapat dipastikan bahwa permainan bridge mulai dibawa oleh bangsa Eropa,khususnya Belanda, yang saat itu menjajah indonesia. Dengan demikian umur permainan ini di Indonesia sudah cukup lama.

Dokter Saboe dan Bridge

Saat menempuh studi di Nederlands Indische Arts School (NIAS) Surabaya, disamping mempelajari ilmu kedokteran dan masalah pergerakan nasional, Dokter Aloei Saboe juga aktif mengembangkan hobinya yaitu bermain bridge. Seluruh kegiatan yang berhubungan dengan bridge pada waktu itu dipusatkan di societeit simpang Surabaya dan yang boleh menjadi anggota hanyalah orang-orang Belanda dan warga asing. Bagi bumiputera harus terlebih dahulu mendapat izin dari gubernur jawa timur.

Atas ketekunannya menggeluti olahraga bridge, Dokter Aloei Saboe terpilih sebagai anggota Team Bridge NIAS mengikuti Kejuaraan Bridge Seluruh Dunia atau World Bridge Olympic Championship pada 20 Januari 1935. Kejuaraan ini dilaksanakan simultan di seluruh dunia oleh panitia penyelenggara yang berpusat di New York, Amerika Serikat. Pertandingan tersebut dimainkan dengan sistim duplicate mirip sistem Scheveningen yang dibagi atas 5 zone yaitu zone Amerika Utara, zona Amerika Selatan, Zone Asia, zona Eropa dan zone Australia. Andu-Saboe, Zina_Dungus termasuk 20 pasangan terbaik pada pertandingan tersebut.

Atas prestasi yang diraihnya itu, maka Aloei Saboe dan pasangannya A. Andu sebagai pasangan terbaik, bersama enam orang maha guru NIAS diundang oleh Gubernur Jawa Timur pada 6 November 1935 dalam rangka acara penyerahan hadiah dari panitia penyelenggara di New York, Amerika Serikat. Hadiah tersebut berupa piala, piagam dan uang sebesar $ US 2500. Prestasi yang diraih dalam kejuraan dunia tersebut dirasakan sangat bermanfaat oleh Dokter Aloei Saboe untuk lebih meningkatkan rasa nasionalisme pada dirinya yang selama ini telah ditanamkan oleh gurunya di NIAS dokter Soetomo. Disamping itu beliau telah mengangkat nama harum NIAS sehingga mendapat perhatian dari para mahaguru bahkan karena gembiranya direktur NIAS menyatakan bahwa dokter Saboe dan pasangannya dapat menyelesasikan pendidikan dan menyandang gelar dokter. Beliau juga mendapatkan beasiswa yang dapat meringankan beban orangtua yang menyekolahkannya.

Dalam artikelnya yang berjudul Prestasi Bridge Indonesia Sudah Ada Sejak Tahun 1935 di koran Sinar Harapan edisi Selasa 28 Agustus 1985, F.Winter menyampaikan Permainan bridge adalah permainan matematika yang mengandalkan pikiran atau otak. Sehingga juara bridge pada tahun 1935 saat bangsa Indonesia sedang dijajah Belanda telah menggugah bangsa lain untuk berpikir bahwa bangsa Indonesia telah mempunyai kemampuan berpikir setaraf dengan bangsa-bangsa yang telah maju. Sewajarnya kalau kita menghargai perjuangan keempat pemuda Indonesia serta mencari upaya untuk memajukan pembinaan olahraga bridge yang setidak-tidaknya dapat menonjolkan kemampuan serta kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Sehubungan dengan itu maka F.Winter menyampaikan bahwa untuk menghargai pahlawan-pahlawan supremasi bridge 1935 dan agar pembinaan bridge dapat digalakkan maka diusulkan tiga hal yaitu: 1) Dapat diterbitkan perangko dan sampul hari pertama mengenang juara bridge zona asia sebab dengan diterbitkan perangko tersebut hal ini bukan saja tersebar di seluruh Indonesia, bahkan akan tersebar di seluruh dunia. 2) Dapat dibangun museum bridge Indonesia yang berisi berbagai piala kejuaraan, medali, tanda-tanda penghargaan dan foto-foto dokumentasi yang saat ini masih tersimpan pada keluarga, termasuk buku-buku atau tulisan tentang bridge terbitan dari dalam dan luar negeri, surat kabar dan majalah yang memuat tentang kejuaraan bridge. 3) Dapat menerbitkan buku mengenang juara bridge Indonesia atau semacam dengan itu. F.Winter mengharapkan perhatian dari pemerintah khususnya menteri Negara pemuda dan olahraga, menteri pariwisata, KONI, GABSI, para usahawan penggemar bridge, pemain dan penggemar bridge serta masyarakat Indonesia untuk bisa mewujudkan usulan tersebut.

Disela aktivitasnya sebagai wakil kepala inspektur kesehatan provinsi Jawa Barat periode 1958-1966, dokter Aloei Saboe masih meluangkan waktu untuk mengikuti kompetisi olahraga bridge baik di tingkat jawa barat maupun di level nasional. Pada tahun 1960 beliau pernah mengkuti pertendingan seleksi dalam rangka penetapan pasangan ketiga yang akan mewakili Indonesia pada Bridge Olympiade tahun 1960.Pertandingan seleksi tersebut  dilaksanakan oleh Gabungan Bridge Seluruh Indonesia disingkat GABSI. Pasangan-pasangan yang mengikuti seleksi pada saat itu adalah para pemain yang diangap terkuat di seluruh Indonesia diantaranya pasangan Dokter Aloei Saboe/D.Palan, Hasnan/ Whie Kian Hay, Hutagalung/Liem Hok Poo, Kol.Dr.Sadikin/Geersi, Tan Tik Hien/Lie Kiem Soei, Dr.Andu/Tan Oen Kiong, Drs. Amein/So Ping Tjay, Djoa Tik Gwan/Son Tiong Khing.

Sebagai induk organisasi bridge di Indonesia, GABSI sendiri didirikan pada 12 Desember 1953 oleh seorang perwira TNI Angkatan Laut bernama Willy Th. Roring, bersama dengan sejumlah tokoh lainnya. Pada waktu awal pendirian GABSI, anggota organisasi terpusat di wilayah Jawa Timur, dimulai dari Surabaya, yang disusul dengan Malang, dan beberapa wilayah lain di Jawa Timur. Dokter Saboe tetap menjalin silaturahmi dengan para tokoh brigde Indonesia bahkan beliau memiliki daftar alamat lengkap beserta aktivitas kegiatan bridgenya mulai dari yang aktif sebagai penulis/penyadur, pencipta sistim/konvensi, pelatih/guru, redaksi majalah berkala bridge, penerbit buku bridge, kolumnis bridge di surat kabar serta penyiar bridge di radio. Beberapa tokoh tersebut diantaranya: Prof. Dr. Ir. H. Johanes, Drs.Harry Johannes, Drs.Hidanul Ichwan dan Soekardjono, B.A (Yogyakarta), E.D.Johanes dan Budi Setiono (Magelang), F.X.Purbyantara, Arief, Ir.Ian Emti, Drs. Ham Hadani dan W.Th.Roring (Surabaya), B Hutagalung (Jakarta), Dr.A.G.F. Andu  (Semarang), serta Janwar Dt. R.Madjolelo (Bandung).

Dokter Aloei saboe juga menyempatkan hadir pada Bridge Open tournament ke-2 tingkat provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Aesculap Bridge Club Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada oktober 1976. Kegiatan yang sama telah dilaksanakan pertama kali pada tahun 1974 dan telah ditetapkan sebagai agenda rutin mahasiswa FK Unair. Kegiatan ini terinspirasi oleh keberhasilan Dokter Aloei Saboe sebagai alumnus FK Unair (dulu NIAS) yang memenangkan Curlbertson Cup World Bridge Olympic Championship. Pada kesempatan tersebut Dokter Saboe menceritakan pengalamannya memenangkan turnamen tersebut. Disampaikannya bahwa sukses gemilang mereka pada masa itu sangat mengejutkan dan mencengangkan pihak penjajah yang masih bercokol di Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa otak-otak “inlander” yang dibesarkan dengan tahu dan tempe dapat diandalkan kemampuannya bahkan melebihi mereka yang dibesarkan dengan susu dan keju.  Dokter Aloei Saboe berharap kegiatan yang diadakan oleh Senat mahasiswa FK Unair ini menjadi sumbangan yang berarti bagi dunia bridge Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya. Dekan FK Unair pada waktu itu dr.Rachmat Santoso meminta para mahasiswa untuk meneladani Dokter Aloei Saboe baik dalam bidang olahraga maupun ilmu pengetahuan.

Penutup

Pada 31 Agustus 1987, Dokter Aloei Saboe wafat di Bandung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Sepeninggal almarhum Dokter Aloei Saboe, salah seorang puteranya, Ir.Anton Saboe menjadi penerus generasi bridge keluarga Saboe dimana beliau saat ini menjadi pemain team B nasional. Tentu kita berharap prestasi bridge yang telah ditorehkan oleh tokoh Gorontalo Dokter Aloei Saboe di level internasional dapat diteruskan oleh generasi muda di daerah kelahirannya Gorontalo. Tanda-tanda ke arah tersebut mulai terlihat dengan keberhasilan 4 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yakni Putri Luwiti, Arlisa Wulandari Usman, dan Febriyanto Samani dari Fakultas Olahraga dan Kesehatan, serta Olivia Adam mahasiswa Fakultas Ekonomi yang meraih juara III pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) olahraga bridge mahasiswa antar Perguruan Tinggi ke-19, yang dilaksanakan 17 sampai 26 Juli 2017 di Sidoarjo Jawa Timur. Pada Kejurnas bridge yang pertama kali diikuti oleh mahasiswa UNG ini, ternyata mampu mencatatkan pencapaian yang membanggakan. Meskipun bersaing dengan 24 tim terbaik dari Perguruan Tinggi ternama lainnya bahkan ada perguruan tinggi yang seluruh timnya termasuk tim nasional junior bridge, namun mahasiswa UNG mampu membuktikan bahwa mereka patut diperhitungkan dalam kompetisi tersebut. Semoga olahraga bridge yang telah dikembangkan oleh Dokter Aloei  Saboe dapat menjadi salah satu cabang olahraga andalan Provinsi Gorontalo yang tidak hanya mengharumkan nama daerah di level nasional tetapi juga dapat mengangkat citra bangsa di kancah internasional seperti yang telah ditorehkan oleh Dokter Aloei saboe pada tahun 1935. (***)

PENULIS

Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Dosen Program Studi Kedokteran UNG

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Gorontalo

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *