Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Dalam sejumlah literatur Sejarah, dijelaskan bahwa pergerakan nasional merupakan sebuah istilah yang digunakan pada fase sejarah Indonesia mencapai kemerdekaan yang terjadi dalam kurun waktu 1908-1945. Tahun 1908 dijadikan sebagai awal pergerakan nasional karena pada masa tersebut perjuangan yang dilakukan oleh  rakyat sudah termasuk dalam kategori bervisi nasional ditandai lahirnya Boedi Oetomo sebagai organisasi modern dengan cita-cita nasional. Sebelumnya pergerakan yang dilakukan untuk menentang kaum penjajah masih bersifat kedaerahan. Kelahiran Boedi Oetomo telah menginspirasi sejumlah tokoh bangsa untuk membentuk organisasi pergerakan sebagai wadah perjuangan merebut kemerdekaan termasuk di daerah Gorontalo.

Dokter Aloei Saboe merupakan salah seorang tokoh Gorontalo yang berjuang di segala medan dan waktu.  Beliau adalah seorang dokter, namun kiprahnya tidak hanya di sektor kesehatan semata, melainkan lintas sektoral dan multidisipliner. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan, tokoh kelahiran Gorontalo 11 November 1911 ini ikut terlibat bersama Nani wartabone dan para pejuang lainnya. Alumnus sekolah kedokteran NIAS Surabaya (Sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga) ini bertugas di Gorontalo sejak tahun 1942 sampai 1958 sebagai seorang dokter pemerintah. Pada masa pergerakan kemerdekaan, dimana para pejuang aktif terlibat dalam organisasi pergerakan untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan patriotisme, Dokter Aloei Saboe aktif di sejumlah organisasi pergerakan dan lembaga politik

Jong Islamieten Bond (JIB)

Dokter Aloei Saboe teratat sebagai anggota JIB di Gorontalo pada 1926. Organisasi JIB didirikan oleh sejumlah pemuda Islam (200 orang), baik mereka itu murid MULO, AMS maupun tamatan sekolah-sekolah tersebut yang sudah bekerja, atau yang berumur antara 14 sampai 35 tahun yang bersepakat untuk mendirikan Ikatan Pemuda Islam yang lebih dikenal dengan nama JIB. Meskipun tanggal berdiri JIB itu 1 Januari 1925, tetapi secara resmi ia diproklamirkan pada tanggal 1 Maret 1925 di Jakarta dengan R. Syamsurijal sebagai ketua pertamanya. Di Gorontalo, pendirian JIB dipelopori oleh pelajar-pelajar asal Gorontalo yang studi di OSVIA Makassar antara lain Ismail Datau, Syam Biya, Abdullah Amu, dan Anyone Hadju. Pada pertemuan pertama dengan para pemuda di daerah ini telah dibentuk JIB cabang Gorontalo dengan susunan pengurus: Djafar Arbie sebagai Ketua, Husain Laiya sebagai Wakil Ketua, Tjan Lamato sebagai Sekretaris dan Marie Mantu sebagai bendahara.

Indonesia Moeda

Dokter Aloei Saboe juga terlibat sebagai anggota Indonesia Moeda di Surabaya di tahun 1930. Indonesia Moeda adalah organisasi pemuda yang terbentuk pada 31 Desember 1930 dan merupakan penggabungan antara organisasi Jong Java, Pemuda Indonesia dan Jong Sumatera. Ide penyatuan dan pembentukan organisasi ini diprakarsai oleh organisasi Jong Java yang mengundang beberapa wakil perkumpulan pemuda untuk rapat di Jl. Kramat No. 106 Batavia tanggal 23 April 1929. Keputusan pertemuan adalah mengadakan Kongres Pemuda di Solo antara tanggal 28 Desember 1930 dan 2 Januari 1931. Pada tahun 1935, saaat masih kuliah di NIAS, dokter Aloei Saboe menghadiri rapat akbar yang diadakan Indonesia Moeda di Kranggan Yogyakarta. Sejumlah tokoh pemuda tanpil menyampaikan orasi untuk memerdekakan Indonesia di antaranya Mohammad Yamin, A.K.Gani, dan para pemuda lainnya.

Persyerikatan Muhammadiyah

Persyerikatan Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Organisasi ini mulai masuk ke Gorontalo mula-mula diperkenalkan oleh Jusuf Otoluwa yang merupakan salah seorang siswa sekolah guru di Jakarta dengan mengajak beberapa kawannya untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah sekembalinya mereka ke Gorontalo. Mereka mengundang sekretaris Pimpinan pusat Muhammadiyah, Mohammad Junus Anis ke Gorontalo untuk meresmikan berdirinya Muhammadiyah Cabang Gorontalo pada 18 November 1928. Di Muhammadiyah, Dokter Aloei Saboe tercatat sebagai warga persyerikatan dan aktif membantu urusan poliklinik.

Semasa masih menjalani pendidikan sekolah dokter NIAS di Surabaya, Dokter Aloei Saboe telah aktif di persyerikatan Muhammadiyah dengan menyelenggarakan kegiatan tabligh dan pengajian untuk membangkitan kesadaran kebangsaan dan kemerdekaan rakyat Gorontalo khususnya warga muhammadiyah. Dalam seriap ceramahnya, beliau menentang sistem kerja rodi sehingga beberapa kali dokter Aloei Saboe mendapat peringatan keras dari pejabat kolonial Belanda bahkan diancam akan dikeluarkan dari sekolah dokter. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau untuk menyampaikan pesan-pesan nasionalisme lewat kegiatan tabligh. Pada tahun 1937, saat beliau sudah Drs.Medicus (Dokter muda atau ko-asisten), Dokter Aloei Saboe telah membantu dokter Sunarjo dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Rumah Sakit Penolong Kesengsaraan Umat (PKU) Muhammadiyah Gorontalo. Selanjutnya beliau melanjutkan pekerjaan sebagai dokter penuh di RS PKU Muhammadiyah Gorontalo pada bulan februari 1942, setelah dokter Sunarjo meninggalkan Gorontalo

Partai Nasional Indonesia (PNI)

Di akhir tahun 1928 Nani Wartabone mendirikan PNI cabang Gorontalo. Dokter Aloei Saboe tercatat sebagai Anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1935.. Pada rapat PNI pertama di daerah Gorontalo tahun 1950, beliau terpilih sebagai ketua umum, kemudian menjadi ketua PNI provinsi Sulawesi Utara dan dipilih oleh DPP PNI menjadi anggota Dewan Partai PNI.

Parlemen Negara Indonesia Timur

Untuk pemilihan anggota baru pada parlemen Negara Indonesia Timur (NIT), maka pada desember 1949 diselenggarakan pemilihan umum dimana Dokter Aloei Saboe terpilih sebagai anggota parlemen mewakili Gorontalo. Beliau bersama sejumlah anggota parlemen dilantik pada 20 Februari 1950 oleh Presiden NIT Tjokorde Sukowati di Makassar.Beliau bergabung dalam Fraksi Kesatuan Republik Indonesia yang diketuai Lanto Daeng Pasewang.Di parlemen inilah kiprah perjuangan beliau kembali ditunjukkan. Pada 17 Maret 1950, bersama dengan sejumlah anggota parlemen yang pro pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Dokter Aloei Saboe ikut menandatangani dan menyerukan mosi pembubaran NIT. Perjuangan beliau membuahkan hasil setelah pada 17 Agustus 1950,  Presiden Sukarno secara resmi mengumumkan pembubaran Republik Indonesia Serikat bersama negara-negara bagian termasuk NIT

Konstituante

          Konstituante adalah sebuah lembaga yang pernah ada di Indonesia masa demokrasi liberal. Lembaga ini didirikan pada tanggal 09 November 1956. Lembaga ini beranggotakan 514 orang yang dipilih melalui pemilihan umum 1955 tepatnya pada tanggal 15 Desember 1955. Ketua dari lembaga ini adalah Wilopo. Dokter Aloei saboe dipilih oleh rakyat menjadi anggota konstituante dengan nomor anggota 453. Beliau bersama para anggota Konstituante lainnya dilantik pada tanggal 20 Mei 1957 oleh Ketua Konstituante Wilopo atas nama Presiden RI.

Pada tanggal 16 September 1957 bertempat di gedung juang Jakarta, dilaksanakan musyawarah nasional antara pemerintah pusat dengan sejumlah pimpinan yang daerahnya bergolak karena gerakan PRRI-PERMESTA. Munas dipimpin oleh Presiden Sukarno dan dihadiri mantan wakil presiden Mohammad Hatta, para gubernur dan panlima kodam serta para anggota konstituante yang berasal dari daerah-daerah yang bergolak. Dokter Aloei Saboe termasuk salah seorang peserta munas tersebut. Setelah melaksanakan rapat selama 3 hari,munas dianggap gagal dan para peserta termasuk dokter Aloei Saboe kembali ke daerah masing-masing dengan keyakinan bahwa pemerintah pusat akan mengambil tindakan yang tegas terhadap mereka yang tidak kooperatif dengan kebijakan pemerintah pusat.

Tugas utama Konstituante adalah menyusun undang-undang dasar (konstitusi) baru untuk menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 (UUDS 1950). Sampai tahun 1959, Konstituante belum berhasil membentuk UUD baru. Pada saat bersamaan, Presiden Soekarno menyampaikan konsepsinya tentang Demokrasi Terpimpin. Sejak itu, diadakanlah pemungutan suara untuk menentukan Indonesia kembali ke UUD 1945. Dari ketiga pemungutan suara yang dilakukan, sebenarnya mayoritas anggota menginginkan kembali ke UUD 1945, tetapi terbentur dengan jumlah yang tidak mencapai 2/3 suara keseluruhan. Setelah voting ketiga, serempak para fraksi memutuskan tidak akan lagi mengikuti sidang Konstituante setelah reses 3 Juli 1959. Kondisi inilah yang menyebabkan Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang membubarkan lembaga ini. Atas pengabdiannya sebagai anggota Konstituante dari fraksi PNI, Dokter Aloei Saboe memperoleh piagam penghargaan dari Dewan Pimpinan Pusat Partai PNI yang ditandatangani Ketua Umum Suwirjo dan Sekretaris Jenderal IBP Manuaba tertanggal 27 Juli 1959. Selepas dari konstituante, Dokter Aloei Saboe sudah pindah dari Gorontalo dan berkiprah di kota Bandung, Jawa Barat.Beliau meninggalkan seluruh kegiatan politik dan memilih aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dari uraian di atas terlihat bahwa Prof.dr.Aloei saboe tidak hanya melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kessehatan tetapi beliau ikut berkiprah dalam pergerakan nasional.Hal ini merupakan buah dari didikan dan bimbingan dokter Soetomo yang merupakan ketua organisasi Boedi Oetomo, dosen di sekolah dokter NIAS sekaligus menjadi mentor politik bagi dokter Saboe dan teman-teman seperjuangannya. Dokter Aloei Saboe 34 tahun lalu telah pergi meninggalkan kita menghadap ke hadirat ilahi rabbi tepatnya pada 31 Agustus 1987. Namun semangat juang serta spirit nasionalisme dan patriotisme almarhum harus menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda Indonesia khususnya Gorontalo dalam mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia yaitu terbentuknya negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Semoga. Alfatehah untuk Almarhum Prof.Dr.Aloei Saboe, Dokter pejuang Indonesia dari Gorontalo.

Penulis

Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Dosen Program Studi Kedokteran UNG

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Gorontalo

 

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *