DR. Dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Pengantar

Sejak proklamasi kemerdekaan sampai saat ini, Indonesia senantiasa melaksanakan proses pembangunan bangsa dan negara di segala bidang sebagai perwujudan mengisi kemerdekaan. Seluruh rakyat dituntut berperan aktif sesuai bidang keahliannya untuk ikut terlibat dalam pembangunan termasuk para buruh. Tanpa keikutsertaan kaum buruh, maka laju pembangunan tidak akan berjalan dengan lancar dan proses produksi tidak akan mencapai target yang ditetapkan. Untuk bisa memperoleh hasil produksi yang maksimal maka syarat mutlaknya adalah kesehatan kerja para buruh harus berada pada kondisi yang optimal. Untuk dapat mencapai kondisi tersebut, maka dalam perjanjian kerjasama (Collective Labour Agreement) para pengusaha harus melaksanakan hiperkes kependekan dari Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.

Sebagai seorang dokter sekaligus guru besar bidang Public Health Universitas Padjajaran Bandung, Dokter Aloei Saboe (1911-1987) memiliki kepedulian terhadap kesehatan para buruh Indonesia khususnya di Provinsi Jawa Barat. Kepedulian tersebut dibuktikan dengan keterlibatan beliau dalam organisasi Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) Provinsi Jawa Barat. Di organisasi ini sejak 15 Juli 1976 hingga akhir hayatnya Dokter Aloei Saboe diangkat menjadi Direktur Khusus Urusan Medis Yayasan Kesejahteraan Buruh (YKB)  FBSI. Disamping itu, dokter Aloei Saboe juga aktif di Yayasan Taruma yang dikelola Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kotamadya Bandung. Di yayasan ini beliau menjadi dokter balai kesehatan sekaligus dokter pelindung yayasan yang mendapat dua tugas. Tugas pertama adalah mengadakan komunikasi dengan para pengusaha jawa barat dalam rangka kerjasama peningkatan pelayanan pemeliharan kesehatan para karyawan/karyawati di perusahaan. Tugas kedua adalah menyelenggarakan pelaksanaan teknis dan mengatur tata cara pelayananan pemeliharaan kesehatan pada perusahaan-perusahaan yang memerlukannya.

Perhatian Dokter lulusan NIAS (1939) ini terhadap nasib para buruh dilatarbelakangi dari pengalaman hidup yang dialaminya sewaktu masih kecil dimana ia menyaksikan ayahnya pulang ke rumah dalam kondisi kelelahan dan terlihat kesakitan karena dipaksa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja rodi pada pembuatan poros jalan sepanjang Gorontalo-Kwandang. Hal inilah yang memotivasi dokter Aloei Saboe untuk menunjukkan kepeduliaan kepada para buruh di Indonesia. Kepeduliaan dokter Aloei Saboe terhadap kesehatan buruh diimplementasikan melalui kegiatan tridarma perguruan tinggi yaitu melakukan pendidikan dan pengajaran, membuat riset ilmiah dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.

Pendidikan dan pengajaran

          Sebagai seorang guru besar dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat di Universitas Padjajaran, Dokter Aoei Saboe mengajarkan kepada para mahasiswanya tentang Hiperkes agar setelah mereka lulus sebagai sarjana dan bekerja di masyarakat, diharapkan dapat menerapkan hiperkes di tempat mereka bekerja. Tidak hanya di depan kelas, Dokter Aloei Saboe juga membagi pengalaman beliau selama 18 tahun tentang pelaksanaan hiperkes kepada para stakeholder dalam dunia perburuhan Indonesia melalui forum seminar, lokakarya maupun diskusi. Tercatat beliau pernah menjadi narasumber pada seminar nasional hiperkes di Medan pada tahun 1976. Termasuk pernah menjadi pemateri pada seminar/ pendidikan bagi pengurus DPC FBSI se Provinsi Jawa Barat tahun 1978. Tidak cukup sampai disitu, beliau juga mengupdate keimuannya dengan mengikuti training hygiene perusahaan dan kesehatan kerja bagi tenaga hiperkes di perusahaan yang diselenggarakan Lembaga Nasional Hiperkes Departemen Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi RI di tahun 1977.

Menurut Dokter Aloei Saboe, dengan semakin pesatnya pembangunan Indonesia khususnya di sektor industri maka dirasakan perlu adanya keberadaan hiperkes. Ditinjau dari kepentingan kaum buruh, pengusaha, pemerintah dan masyarakat, maka kegiatan hiperkes wajib dilaksanakan oleh setiap perusahaan besar, menengah maupun kecil baik yang bekerja dengan modal dalam negeri maupun modal asing agar hubungan perburuhan pancasila dapat diterapkan seutuhnya di bumi Indonesia.  Melalui hiperkes maka para buruh memperoleh perlindungan dalam bidang kesehatan diantaranya adanya tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan kepada para buruh dan masyarakat, usaha kuratif untuk menekan angka absensi buruh karena sakit serta pengamanan atas bahaya yang mungkin timbul oleh karena proses industri dan berdampak kepada buruh dan masyarakat luas.

Namun dalam kenyataannya, hiperkes belum berjalan sebagaimana mestinya. Dalam catatan Dokter Aloei Saboe, ada sejumlah faktor yang menghalangi pelaksanaan hiperkes ini di lapangan diantaranya masih banyak pengusaha yang belum menyadari pentingnya hiperkes, ketidaktahuan para buruh terhadap pentingnya hiperkes bagi mereka, tidak adanya sanksi hukum yang tegas terhadap para pengusaha yang tidak melaksanakan hiperkes serta kurang mampunya lembaga hiperkes di daerah untuk melaksanakan tugasnya. Untuk mengatasi sejumlah persoalan tersebut, maka Dokter Aloei Saboe memberikan sejumlah solusi pemecahannya diantaranya para pengusaha yang belum memahami hiperkes diharuskan mengikuti kursus hiperkes. Hanya pengusaha yang memiliki sertifikat telah mengikuti diklat hiperkes yang dapat diberikan izin untuk mendirikan suatu perusahaan. Para buruh yang belum memahami hiperkes harus dikutsertakan dalam suatu ceramah atau penerangan sederhana tentang hiperkes yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka. Setiap buruh yang dengan sengaja menolak mengikuti aturan hiperkes dapat dikenakan sanksi pemecatan. Para dokter dan petugas kesehatan yang bekerja di perusahaan harus mengikuti kursus hiperkes bahkan di setiap daerah kabupaten dan kota dibentuk suatu tim yang terdiri dari unsur hiperkes, FBSI, pengawas perburuhan Depnaker bersama pemerintah setempat yang menjalankan tugasnya secara tegas dan konsisten berdasarkan peraturan perundangan mengenai hiperkes.

Penelitian Ilmiah

          Pada tahun 1977, Dokter Aloei Saboe melaksanakan penelitian tentang kehidupan kaum buruh di Kota Bandung. Penelitian ini melibatkan para mahasiswa tingkat akhir akademi keperawatan jurusan pemeliharaan kesehatan masyarakat dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Bandung yang turun ke sejumlah kecamatan di Kota Bandung. Dari penelitian ini didapatkan bahwa tingkat kesehatan buruh khususnya yang berstatus buruh harian dan buruh borongan rata-rata di bawah standar karena mereka juga mengalami kekurangan gizi. Upah yang mereka dapatkan ternyata hanya mampu memenuhi 50% dari kebutuhan makanan secara kwantitatif. Penghasilan yang terlalu rendah tidak memungkinkan seorang buruh sebagai kepala keluarga untuk memberikan makanan yang memenuhi persyaratan kesehatan dan tumbuh kembang anak-anaknya. Hal ini dibuktikan dari hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan anak-anak buruh tidak mencapai kriteria ideal rerata anak seusianya. Jumlah protein yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi keluarga buruh jauh di bawah standar gizi. Tentu hal ini akan berdampak pula pada buruh bersangkutan yang tidak dapat melaksanakan pekerjaanya secara baik. Disamping itu pula, penghasilan buruh yang terlalu rendah membuat mereka tidak mampu menyekolahkan anaknya dan membangun rumah hunian yang sesuai standar kesehatan. Kondisi ini diperberat dengan ketidaktahuan para buruh disebabkan tingkat pendidikan yang rendah. Masalah kesehatan, gizi, maupum kebersihan lingkungan keluarganya luput dari perhatiannya karena sepanjang hari buruh hanya fokus bekerja mencari nafkah. Tidak mengherankan apabila angka kesakitan dan kematian cukup tinggi di komunitas buruh dibandingkan lokasi yang lain. Korban sakit dan meninggal terutama disebabkan penyakit pada saluran pencernaan.

Berdasarkan hasil riset ini, maka  Dokter Aloei Saboe memberikan saran dan masukan kepada pemerintah untuk membuat suatu regulasi perundangan tentang sistem pengupahan minimum secara sektoral, regional maupun nasional yang dilengkapi dengan suatu badan yang terus-menerus melakukan survey indeks biaya hidup. Kepada para pengusaha yang mempekerjakan buruh disarankan untuk menaikkan upah buruh disesuaikan dengan meningkatnya keuntungan perusahaan, perbaikan jaminan sosial dan perbaikan syarat-syarat kerja. Untuk mengatasi ketidaktahuan buruh tentang kesehatan, maka disarankan agar FBSI melaksanakan pendidikan dan penyuluhan kepada para buruh. Termasuk untuk menghindarkan para buruh dari sejumlah penyakit maka perlu ada pemeriksaan kesehatan secara periodik yang dilaksanakan di klinik kesehatan yang ditunjuk oleh perusahaan. Saran, masukan dan rekomendasi dari hasil penelitian ini, disampaikan oleh Dokter Aloei Saboe kepada Bapak Agus Sudono, Ketua Umum FBSI pada zaman itu. Oleh pak Agus Sudono, rekomendasi tersebut diperbanyak dan dikirimkan ke sejumlah pihak diantaranya Menteri Negara Ekuin, Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi, Kepala Bappenas termasuk kepada Presiden Suharto dan tokoh proklamator Moh.Hatta. Hasil riset yang dilakukan oleh Dokter Saboe mendapat apresiasi dari Atase Perburuhan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia Mr. Leonard Sandman dengan meluncurkan ”II CARE Feeding Program”yang memberikan bantuan bahan pangan kepada para buruh dan keluarganya.

Pengabdian Masyarakat

          Dalam kapasitas sebagai Direktur Khusus Urusan Medis Dana Sakit YKB FBSI, Dokter Aloei Saboe telah mengupayakan 5 poliklinik yang dikelola YKB FBSI yang telah melayani 8.023 orang buruh sebagai peserta dana sakit dari sejumlah 20.000 orang buruh yang bekerja di 250 perusahaan di Kota Bandung. Dalam melayani buruh peserta dana sakit, setiap poliklinik tidak memungut bayaran karena para buruh tersebut telah dikenakan iuran sebesar 1% dari upah pokok buruh dan 5% upah pengusaha. YKB FBSI tidak memaksa para buruh untuk menjadi anggota dana sakit. Namun para buruh diharapkan dapat memilih poliklinik atas dasar pelayanan. Olehnya maka para petugas kesehatan yang bertugas di polikinik YKB FBSI harus mampu memberikan pelayanan terbaik.

Dokter Aloei Saboe juga ikut terlibat dalam rencana pembangunan rumah sakit modern khusus untuk buruh. Rumah sakit tersebut direncanakan terdiri atas 50 ruangan pasien dan berlokasi di kabupaten Bandung. Bahkan International Confederation of Free Trade Unions (ICFTU) telah memberikan bantuan tahap pertama sebesar US$45.000 untuk pembanguan rumah sakit tersebut. Hal ini menunjukan bahwa organisasi buruh sedunia menaruh perhatian besar terhadap kesehatan para buruh Indonesia khususnya di Jawa Barat.

Penutup

          Menurut Dokter Aloei Saboe, kedudukan kaum buruh di Indonesia masih lemah baik dari aspek pendidikan, keterampilan dan keuangan termasuk dalam bidang kesehatan. Olehnya penerapan hiperkes di perusahaan merupakan wujud kepedulian terhadap kesehatan para buruh Indonesia. Melalui penerapan hiperkes akan tercapai produksi yang maksimal sesuai dengan prinsip perjuangan dan pola falsafah FBSI yang tersimpul dalam suatu trilogi yaitu meningkatkan produksi, memperluas kesempatan kerja dan meratakan hasil-hasilnya. Mari kita terapkan hiperkes di tempat kerja kita masing-masing sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan buruh sebagaimana yang telah diteladankan oleh Prof.dr.Aloei Saboe.

PENULIS

Dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Dosen Program Studi Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Gorontalo

 

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *