Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Kusta adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae dan sudah ditemui sejak lama dalam sejarah kehidupan manusia. Kata kusta sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu kusnati yang artinya menggerogoti karena terkait dengan kerusakan tubuh pasien. Stigma negatif terhadap penyakit kusta menyebabkan penanganan pasien kusta seringkali terlambat. Keterlambatan penanganan inilah yang bisa mengakibatkan penderita kusta mengalami kecacatan permanen. Dampak dari kecacatan permanen makin menyebabkan tekanan psikologis terhadap penderita penyakit kusta dan menambah rumit penanggulangan penyakit ini.

Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa di tahun 2020 terdapat 16.704 kasus  kusta yang terjadi di Indonesia. Angka ini turun dari data di tahun 2019 yaitu 17.439 kasus. Sebanyak 26 provinsi telah mencapai eliminasi kusta dan masih ada 8 provinsi yang belum mencapainya yaitu: Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Dilaporkan juga bahwa masih ada 113 kabupaten/kota yang belum mencapai eliminasi kusta, dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai peringkat ketiga setelah India dan Brazil yang memiliki penderita kusta terbanyak di dunia.

Dinas Kesehatan provinsi Gorontalo melaporkan bahwa jumlah penderita penyakit kusta di Provinsi Gorontalo yakni sebanyak 209 kasus. Tahun 2020 terdapat 82 kasus baru, selebihnya merupakan kasus lama. Tahun 2018 dan 2019 pencapaian penemuan kasus kusta baru tanpa cacat dapat dilihat melebihi target nasional dimana tahun 2018 sebesar 98% dan 2019 sebesar 92,15, sedangkan pada tahun 2020 terjadi penurunan capaian hanya sebesar 85,3% tidak mencapai target sebesar 87%. Salah satu yang membuat capaian cakupan kasus kusta baru tanpa cacat adalah adanya COVID 19 dimana pasien enggan untuk memeriksa kesehatannya di fasilitas kesehatan. Kondisi ini tentu sangat ironis mengingat Gorontalo dalam sejarahnya memiliki seorang tokoh  yang aktif berjuang dalam pemberantasan penyakit kusta di Indonesia. Tokoh tersebut adalah Pof.dr.Aloei Saboe (1911-1987).

Selama lebih dari 30 tahun, dokter Aloei Saboe bergelut dalam pemberantasan penyakit kusta yang ketika itu menjadi momok bagi masyarakat. Ketertarikan beliau pada pemerantasan penyakit kusta dilatarbelakangi oleh peristiwa masa lalu. Ketika itu saat beliau masih duduk di kelas 2 HIS, salah seorang sahabatnya dikeluarkan dari sekolah karena ia, bapaknya, dan 2 saudara perempuannya menderita penyakit kusta. Bahkan mereka diusir dari tempat tinggalnya karena rumahnya berdekatan dengan rumah pejabat Belanda. Peristiwa ini membuat Aloei Saboe muda bertekad untuk membantu para penderita kusta. Khusus untuk mempelajari penyakit kusta ini beliau sudah mengalami penempatan di sejumlah daerah di Indonesia.

Pada September 1939, beliau diperintahkan oleh Horfd, Inspektur Van den Dienst der Volks gezendheid untuk melakukan survei pemberantasan penyakit Kusta di daerah Bekasi (Wates-Lemah Abang). Selanjutnya di bawah pimpinan Dr. J.B.Sitanala, Prof.dr.Sardjito dan Prof.dr.Djuhana, beliau mengadakan penelitian penyakit kusta di Jawa Tengah meliputi Blora dan Cepu serta di Jawa Timur meliputi Gresik dan Bangkalan.  Pada November 1939 sampai awal tahun 1942, dokter Aloei Saboe ditempatkan di Maluku. Di daerah tersebut terdapat Leproseri atau Rumah Sakit Kusta (RSK), dimana orang Belanda menyebut Rumah Sakit Kusta sebagai Lazarus Huis (Rumah Lazarus). Lazarus, diambil dari salah satu figur dalam Alkitab yang dikisahkan  menderita sakit kusta.

Dr. J.B.Sitanala dikenal sebagai ahli penyakit kusta bertama di Indonesia. Sebagai perintis pemberantasan penyakit kusta, namanya juga dikenal di dunia Internasional atas karya-karya ilmiah, penelitian, dan metode baru pengobatan Penyakit Kusta. Saat menjabat Hoofd Leprabestrijding (Kepala Pemberantas Lepra), Dr.J.B.Sitanala memperkenalkan sistem tiga langkah penanganan pasien lepra, yaitu eksplorasi (surveilans), pengobatan, serta pemisahan tanpa paksaan dan tetap dalam lingkungan keluarga. Walaupun tak serta-merta menggantikan fungsi leprosarium, sistem tiga langkah secara perlahan mengurangi tindakan pemaksaan isolasi pasien lepra. Tentu menjadi suatu kebanggaan bahwa dokter Aloei Saboe sebagai dokter asal Gorontalo bisa menimba ilmu sekaligus terlibat dalam riset bersama dengan dokter Sitanala sebagai tokoh perintis pemberantasan penyakit kusta di Indonesia.

Pada 3 Februari 1942, dokter Aloei Saboe resmi bertugas di Gorontalo sebagai dokter pemerintah di Rumah Sakit Daerah Kota Gorontalo. Saat itu di Gorontalo ada tiga penyakit yang menonjol yaitu kusta, malaria, dan  frambusia. Kusta merupakan penyakit yang sangat ditakuti masyarakat sehingga para penderitanya diasingkan jauh dari keluarga dan masyarakat umum. Untuk mengobati  para pasien tersebut, maka dokter Aloei Saboe berinisiatif meminta kepada Pemerintahan Jepang agar gudang perbekalan mereka yang disebut bokuka dapat dijadikan sebagai tempat  penampungan khusus bagi para penderita penyakit kusta. Prakarsa dokter Aloei saboe disetujui pemerintah Jepang. Sejak saat itu masyarakat menyebut bekas gudang tersebut dengan sebutan rumah sakit Bokuka. Dari tahun ke tahun, jumlah penderita kusta yang dirawat semakin bertambah banyak sampai mencapai 305 orang. Penderitanya tidak hanya berasal dari Gorontalo saja tetapi juga  dari Minahasa, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Oleh karena itu maka Pemerintah Gorontalo mendatangkan sejumlah dokter dari berbagai daerah untuk membantu dokter Aloei Saboe  dalam mengobati para penderita. Dokter Aloei Saboe bersama sejumlah dokter rmenyepakati Rumah Sakit Bokuka menjadi Rumah Sakit Kusta Toto (RSKT) karena berlokasi di Desa Toto, kecamatan Kabila. Di desa itu pula dokter Aloei Saboe mengembangkan perkampungan penyakit lepra dengan system yang diadopsi dari Negara Belgia yaitu Village Agriculture Isolation Leprosy disingkat VAIL.

Selama PRRI-Permesta di Gorontalo, pembangunan RSKT yang dirintis dokter Aloei Saboe sejak tahun 1942 dapat diselesaikan bahkan RS ini menjadi salah satu bukti sejarah pemberantasan Permesta di Gorontalo karena selama berbulan-bulan sebelum kedatangan pasukan TNI dari pusat, Dokter Aloei Saboe telah menyembunyikan bahan bakar, bahan makanan dan obat-obatan  di RSKT. Selama kurun waktu 9 bulan, beliau berhasil mengumpulkan 8 drum bensin dan 6 kwintal beras. Dengan taktik beliau yang menimbun bahan-bahan kebutuhan utama tersebut, akhirnya TNI mampu menghancurkan pertahanan PERMESTA. Beliau juga menyiapkan 3 mobil kepunyaan RSKT yaitu  landrover, jeep dan pick up untuk dapat digunakan TNI dalam melakukan pengejaran dan mengusir Permesta keluar dari daerah Gorontalo.

Kehadiran RSKT di Gorontalo telah melengkapi keberadaan rumah sakit kusta yang ada di pulau Sulawesi pada masa itu yaitu sejumlah 11 rumah sakit diantaranya RS Djongaja, RS Parepare dan RS Bau-Bau dengan dokternya dr. Go Yauw Liem, RS Watampone (dr.M.Jasin), RS Sengkang (dr.Susmojo), RS Madjene dan  RS Paloppo (dr.Siregar), RS Rantepao dan RS Kawatuna (dr.J.Goslinga) dan RS Malalajang (dr.W.Tumbelaka). Adanya rumah sakit khusus penderita kusta di Indonesia merupakan salah satu langkah penanggulangan permasalahan penyakit kusta di Indonesia.  Namun tantangan untuk rumah sakit khusus kusta saat ini terkait jumlah pasien. Apabila dikhususkan untuk penderita kusta saja, maka rumah sakit ini akan mengalami idle capacity yang relatif banyak. Olehnya banyak RS khusus kusta di sejumlah daerah beralih status menjadi RS umum seperti halnya yang terjadi di RSKT dimana para pengidap kusta telah banyak yang berangsur-angsur sembuh dan jumlahnya sudah berkurang, sehingga sejak tahun 1998 RSKT mulai menerima pasien selain kusta. Pada tahun 2003 setelah Kabupaten Bone Bolango berdiri, maka rumah sakit tersebut menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Toto Kabila. Walaupun demikian,pasien kusta tidak dianaktirikan meski secara kunjungan akan lebih sedikit dibandingkan pasien non kusta.

Data dari website sirs.yankes.kemkes.go.id, saat ini masih ada 11 rumah sakit khusus kusta yang tersebar di seluruh Indonesia. Tiga diantaranya merupakan rumah sakit di bawah kementrian kesehatan yaitu RS Kusta Dr. Rivai Abdullah di Sumatera selatan, RS Kusta Dr. Sitanala di Banten dan RS Kusta Dr. Tadjuddin Chalid, MPH di Sulawesi Selatan. Ada 3 RS yang dimiliki pemerintah daerah  yaitu RS Umum Kusta Lau Simomo dan RS Kusta Pulau Sicanang  yang keduanya dikelola oleh pemda provinsi sumatera utara, RS Kusta Kediri yang dikelola pemda provinsi Jawa Timur dan RS Kusta Merauke yang dikelola pemda kabupaten Merauke. Ada 3 RS Kusta yang dikelola oleh organsisasi sosial yaitu RS Kusta&Cacat Umum Bunda Pembantu Abadi dan RS Kusta Lembata keduanya di NTT serta RS Kusta Singkawang, di Kalimantan Barat. Ada 1 RS Kusta yang dikelola BUMN yaitu RS Kusta Nganget di Jawa Timur.

Sejak tahun 1958, dokter Aloei Saboe meninggalkan Gorontalo untuk berkiprah di Kota Bandung, Jawa Barat. Walaupun sudah di luar Gorontalo, dokter Aloei Saboe tetap memberikan perhatian kepada RSKT dan komunitas bekas penderita kusta yang tingal di kompleks RSKT. Atas jasa-jasanya dalam pemberantsan penyakit kusta di Indonesia, maka dokter Aloei Saboe menerima penghargaan satya lencana kemerdekaan dan satya lencana karya satya kelas II yang diserahkan oleh Menteri Kesehatan RI Prof.Dr. G.A.Siwabessy pada momentum hari kesehatan nasional tanggal 12 November 1969. Di tahun 1986, beliau pernah menulis surat permohonan kepada pemerintah  pusat dan pemerintah daerah Gorontalo agar dapat melaksanakan renovasi dan rehabilitasi fisik RS Kusta Toto yang beliau katakan sebagai rumah sakit bersejarah yang dibangun pada tahun 1942 sebagai penghargaan atas berhasilnya rakyat Indonesia di Gorontalo  di bawah pimpinan Nani Wartabone yang berhasil mengambil alih pemerintahan hindia Belanda dan memproklamasikan kemerdekan Indonesia pada 23 Januari 1942.

Semoga dengan meneladani spirit perjuangan dokter Aloei Saboe dalam pemberantasan penyakit kusta di tanah air khususnya di Gorontalo, diharapkan  pemerintah dan masyarakat Gorontalo senantiasa bersinergi dan berkolaborasi untuk menurunkan jumlah penderita penyakit kusta dan menjadikan Gorontalo sebagai provinsi yang mencapai eliminasi kusta. (***)

 

Penulis

Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Dosen Program Studi Kedokteran UNG

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Gorontalo

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *