DR. Dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

(Refleksi Hari Bakti Dokter Indonesia)

Dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

Dosen Program Studi Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Gorontalo

 

Pengantar

Setiap tanggal 20 Mei, para dokter di seluruh Indonesia memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI). Sejarah mencatat tanggal 20 Mei diperingati juga sebagai hari kebangkitan nasional. Dengan demikian, setiap kali memperingati hari kebangkitan nasional, kita juga akan mengenang kiprah dokter indonesia. Dokter Wahidin sudirohusodo bersama para perintis kedokteran di Indonesia melalui kiprahnya pada masa pergerakan mengingatkan kepada kita bahwa dokter terlahir sebagai profesi mulia yang menyandang trias peran dokter yaitu: sebagai agent of treatment, agent of development dan agent of change. Dokter dalam setiap kiprahnya seharusnya menerapkan trias peran dokter tersebut. WHO menguraikan kiprah ini dengan menyebutnya sebagai ”The Five Star Doctors” yaitu community leader, communicator, manager, decision maker dan care provider. Gorontalo memiliki seorang dokter yang merupakan sosok insan kesehatan yang paripurna. Beliau adalah Prof.dr.H.Aloei Saboe. Kelima kriteria dokter bintang lima versi WHO tersebut terdapat pada diri tokoh kelahiran Gorontalo 11 November 1911. Semasa kuliah di NIAS Surabaya, beliau banyak berinteraksi dengan dokter Sutomo sebagai salah seorang staf pengajar NIAS sekaligus pendiri dan ketua organisasi Budi Utomo. Selain mengajarkan ilmu di bidang kedokteran, dokter Sutomo juga membimbing Aloei Saboe dan rekan-rekannya tentang ilmu politik dan wawasan kebangsaan. Tidak mengherankan apabila jiwa nasionalisme dan semangat patriotisme telah terpatri dan mendarah daging pada diri Dokter Aloei Saboe.

Peran Sebagai care provider

Dalam memberikan pelayanan medis, seorang dokter harus memperlakukan pasien secara holistik sebagai bagian integral dari keluarga dan komunitas serta memberikan pelayanan yang bermutu, menyeluruh,berkelanjutan dan manusiawi dilandasi saling percaya. Sebagaimana seorang dokter pada umumnya, Aloei Saboe juga melaksanakan tugas merawat dan mengobati pasien. Setelah lulus dari NIAS pada Mei 1939, beliau ditugaskan oleh pemerintah hindia Belanda  sebagai dokter pemerintah di Rumah sakit Kota Semarang. Pada September 1939, beliau diperintahkan oleh Horfd, Inspektur Van den Dienst der Volks gezendheid untuk melakukan survei pemberantasan penyakit Kusta di daerah Bekasi (Wates-Lemah Abang). Selanjutnya di bawah pimpinan Dr. J.B.Sitanala, Prof.dr.Sardjito dan Prof.dr.Djuhana, beliau mengadakan penelitian penyakit kusta di Jawa Tengah meliputi Blora dan Cepu serta di Jawa Timur meliputi Gresik dan Bangkalan.  Pada November 1939 sampai awal tahun 1942, dokter Aloei Saboe ditempatkan di RS Kusta Ambon.

Pada 3 Februari 1942, dokter Aloei Saboe resmi bertugas di Gorontalo sebagai dokter pemerintah Rumah Sakit Daerah Kota Gorontalo. Beliau bekerja sama dengan dr. Mansyur Muhammad Dunda dan dr. Liem Keng Hong memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Gorontalo, dibantu oleh 4 orang tenaga perawat dan 3 bidan. Apalagi pada masa itu Gorontalo sedang dilanda wabah disentri dan kolera yang menimbulkan banyak korban, disusul wabah penyakit cacar (Variola) dan penyakit patek (frambusia). Disamping itu beliau bersama dr. Sunaryo dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga melayani pasien yang datang berobat ke poliklinik PKU Muhammadiyah Gorontalo. Beliau juga mendirikan Rumah Sakit khusus kusta yang dapat menampung 300 orang pasien di desa Toto, kecamatan Kabila. Kehadiran Rumah Sakit Kusta di Gorontalo telah melengkapi keberadaan Rumah Sakit Kusta yang ada di pulau Sulawesi sejumlah 11 Rumah Sakit. Saat menjalani masa pengasingan oleh pemerintah Belanda, beliau ditugaskan sebagai dokter di Rumah Sakit Daruba, Pulau Morotai (1946) dan di Rumah Sakit Tilamuta (1948).Di Jawa Barat, beliau diitugaskan oleh Gubernur Jawa Barat sebagai dokter di Karesidenan Priangan (1959-1966).

Peran Sebagai decision maker   

          Dalam mengambil kebijalan kesehatan dan keputusan medik, seorang dokter diharapkan memiliki kemampuan memilih terapi dan teknologi yang efektif dan efisien dengan memperhatikan aspek etika. Semasa Dokter Aloei Saboe bertugas di Gorontalo beliau telah memutuskan sejumlah kebijakan bagi pembangunan sektor kesehatan diantaranya semua kegiatan usaha kesehatan perorangan (UKM) dan usaha kesehatan masyarakat (UKM) lebih digiatkan, memanfaatkan dana UNICEF untuk pengembangan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), pembangunan dan pengembangan Rumah Sakit dan peralatannya, peningkatan pendidikan tenaga kesehatan termasuk memenuhi kebutuhan SDM kesehatan dengan mendatangkan tenaga medis dan paramedis dari luar daerah.

Demikian pula saat dokter Aloei Saboe bertugas di Jawa Barat, beliau mengambil sejumlah keputusan strategis dalam hal pemberantasan sejumlah penyakit seperti Cacar, Patek dan Tuberkulosis dengan intensifikasi kampanye penyuntikan BCG, pemberantasan wabah muntaber, meringankan beban rakyat akibat bencana banjir, dan mengadakan penilaian kebersihan kabupaten/kota se provinsi Jawa Barat. Beliau juga berperan sebagai ketua tim screening G30S di Provinsi Jawa Barat.

Peran Sebagai manager

Dalam hal manajerial, seorang dokter harus mampu bekerjasama secara harmonis dengan individu dan organisasi di luar dan di dalam lngkup pelayanan kesehatan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasien dan komunitas. Dokter Aloei Saboe pernah berkiprah dalam jabatan struktural di sektor kesehatan, diantaranya sebagai Kepala Inspeksi Kesehatan Sulawesi Utara dan Tengah (1950-1959), Wakil Kepala Pengawas Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat (1959-1966), dan Biro Kesehatan pada Konferensi Islam Asia Afrika (1965). Beliau juga pada tahun 1959-1966 diangkat menjadi pemimpin pengawas sekolah dan kursus pendidikan paramedis di Jawa Barat termasuk pendidikan paramedis ABRI dan Rumah sakit swasta yang telah menghasilkan 6444 tenaga paramedis termasuk 523 dari Angkatan Darat dan 72 dari Angkatan Udara.

Di sektor pendidikan pun Dokter Aloei Saboe turut berkiprah diantaranya Direktur akademi perawatan (1966-1971), pendiri Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung sekaligus tenaga pengajar luar biasa FKG Unpad, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Imanuel Bandung (1968), guru besar kesehatan masyarakat Unversitas Padjajaran Bandung (1973) dan anggota dewan kurator Sekolah Tinggi Ilomata Jakarta (1984). Beliau mengampu kuliah dan praktikum ilmu kesehatan masyarakat.

Peran Sebagai communicator

Seorang dokter dimanapun ia berada dan bertugas harus mampu mempromosikan gaya hidup sehat, memberikan edukasi yang efektif serta memberdayakan individu dan kelompok untuk dapat hidup sehat. Kemampuan komunikasi dokter Aloei Saboe dimanfaatkan oleh Nani Wartabone sewaktu membentuk dewan nasional di Gorontalo pasca penyerahan pemerintahan dari Jepang. Sebagai ketua Dewan Nasional, Nani Wartabone menempatkan Dokter Aloei Saboe pada bidang propaganda dengan penugasan khusus untuk memberikan informasi tentang kemerdekaan Indonesia sekaligus memotivasi dan membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Gorontalo. Setiap kali beliau berpidato di hadapan massa rakyat, senantiasa diakhiri dengan pesan: ”Bila saya akan ditangkap oleh pihak yang berkuasa, Insya Allah kita akan bertemu lagi, Jika tidak di dunia ini maka di akhirat kelak”.

Dokter Aloei Saboe juga  mengedukasi masyarakat lewat tulisan. Beliau aktif menulis buku baik di bidang kesehatan, pendidikan dan keagamaan di antaranya: Hikmah Kesehatan Dalam Sholat, Hikmah Kesehatan Dalam Puasa, Islam dan Ilmu Kedokteran, Pendekatan Ilmiah Tentang Eksistensi Tuhan Dan Makhluk Ciptaannya, Aku di Dunia dan Akhirat, dan Nabi Muhammad SAW dalam Kitab Injil Barnaba. Buku-buku ini beliau kirimkan ke sejumlah instansi untuk menjadi koleksi perpustakaan. Salah satu buku beliau yang terkenal adalah ”hikmah kesehatan dalam sholat” pernah diminta oleh Menteri Agama Mukti Ali menjadi buku panduan bagi rombongan haji Indonesia bahkan sering dijadikan rujukan bagi para pemerhati kesehatan islam. Disamping itu pula beliau rajin menulis artikel yang dimuat di harian Pikiran Rakyat, Suara Pembaharuan, Kompas, Majalah mimbar ulama, dan panji masyarakat.

Peran Sebagai community leader

Dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, seorang dokter harus dapat menempatkan dirinya sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat, mampu menemukan kebutuhan kesehatan bersama individu dan masyarakat serta mampu melaksanakan program sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dokter Saboe ikut terlibat dalam sejumlah kegiatan sosial kemasyarakatan  diantaranya Anggota Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bandung, Anggota Pengurus Pleno Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, Ketua dewan pembina yayasan kemanusiaan RS Jantung Rajawali Bandung, Direktur Yayasan Kesejahteraan buruh Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) Provinsi Jawa Barat, Ketua Bidang Kesehatan Yayasan Veteran Republik Indonesia Kota Bandung, dan Ketua Yayasan Warga Gorontalo Bandung.

Dalam kapasitas sebagai pembina Yayasan RS Jantung Rajawali, Dokter Aloei Saboe memberikan perhatian kepada masyarakat tidak mampu dengan menyediakan 40% tempat tidur di RS Rajawali dan membebaskan biaya perawatan bagi mereka yang benar-benar tidak mampu. Sebagai Direktur Yayasan Kesejahteraan buruh FBSI Provinsi Jawa Barat, Dokter Aloei Saboe memberikan perhatian serius kepada para buruh dengan mendirikan 5 poliklinik yang melayani 8.035 orang buruh peserta dana sakit di Kota Bandung. Beliau juga meloby berhasil meloby atase perburuhan Amerika Serikat dan perwakilan Asian America Free Labour Institute (AAFLI) di Jakarta untuk memberikan bantuan bahan pangan kepada para buruh Jawa Barat dan keluarganyaa. Sebagai ketua yayasan warga Gorontalo, Dokter Aloei Saboe juga menyerahkan bantuan 2 unit traktor dari masyarakat Gorontalo di Jawa Barat kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kodam VI Siliwangi. Yayasan yang didirikan bersama dengan Ny.R.A. Habibie (Ibunda Prof.Dr.B.J.Habibie) dan Prof.Dr.J.S.Badudu ini juga membantu putera-puteri Gorontalo yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi yang ada di Kota Bandung.

Penutup

Dari uraian di atas, terlihat bahwa dokter Aloei Saboe telah memberikan keteladanan trias peran dokter sabagaimana yang dicontohkan oleh dr.Wahidin. Dokter tidak hanya menjadi agent of physical treatment, tapi juga harus menularkan nilai profesi dan kecendekiawanannya sehingga menjadikannya sebagai agent of mental-social change dan agent of development dalam pembangunan bangsa dan Negara. Selamat Hari Bakti Dokter Indonesia. Viva Medica! (***)

 

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *