Kompol Dhanang Bagus Anggoro, S.I.K, M.H

Belajar dari sejarah bukanlah hanya menghapal waktu peristiwa, siapa pelaku, bagaimana terjadi dan seterusnya. Akan tetapi, membaca sejarah — seyogianya belajar tentang kearifannya serta menarik benang kronologis agar dapat diambil poin-poin bijak di masa lalu. Menghikmati latar kejadian, misalnya, atau mengambil nilai-nilai peristiwa, ataupun memprakirakan dampak jangka panjang atas peristiwa tersebut dan seterusnya. Dari hal tersebut bisa dijadikan rujukan keputusan yang efektif baik di masa kini maupun di masa depan.

Kenapa demikian, ungkapan tua menyatakan: “History repeats itself.” Sejarah berulang dengan sendirinya melalui pola yang sama — hanya waktu, aktor dan kemasan yang berbeda. Poin intinya, sejarah itu pola hidup (dan peristiwa) yang niscaya berulang.

Dalam ilmu negara —ruang nasionalisme— Bung Karno (BK) pun mendudukkan sejarah sebagai aspek utama, selain dua aspek penting lain yakni budaya dan filosofi.

Lantas, apa yang dimaksud dengan kearifan sejarah di atas? Memang belum ada definisi yang bersifat text book. Mencatut Pendapat IJP (P) Drs. M.A Pranoto, MM, bahwa kearifan sejarah ialah hikmah yang dapat dipetik pada komprehesif peristiwa dan dimanfaatkan bagi masa kini dan masa depan. Itu singkat cerita. Silahkan kembangkan sesuai tempat/wilayah masing – masing.

Meminjam istilah Bung Karno (BK): “jangan melupakan sejarah (Jas merah)”, agaknya nasehat tersebut menebalkan pepatah lama: ‘agar orang jangan masuk lobang yang sama (Dalam sehari)’. Kenapa? Mengulangi kesalahan masa lalu ibarat kebodohan berkala. Sekali lagi, mengulang kesalahan itu identik dengan kebodohan berkala!

“Adakah yang kita hikmati pada peristiwa Perang Candu di Cina, misalnya, atau sejarah terpinggirnya Aborigin di Australia, atau sejarah tersingkirnya suku Indian di Amerika?”

Ada beberapa hal yang mutlak diwaspadai:

1. Ketika Cina mengizinkan perdagangan/investasi candu kepada Inggris, ini mirip bujuk rayu iblis terhadap Adam, di mana maraknya candu di Cina akhirnya malah ‘membunuh’ satu generasi (Lost generation);

2. Maraknya candu mengakibatkan kehancuran moral, lemahnya mental, tipisnya semangat patriotisme dan jiwa juang serta rendahnya nasionalisme sebuah bangsa;

3. Candu merupakan sarana termurah merusak bangsa;

4. Demikian pula dengan sejarah terpinggirnya bangsa Aborigin dan suku Indian di tanah leluhurnya akibat faktor maraknya minuman keras (Miras) di kedua entitas, sedang isu Miras tersebut merupakan cipta kondisi (Siasat) oleh kaum imigran alias pendatang agar pribumi tak memiliki daya juang dan tak punya daya lawan —teler—terhadap kolonisasi dinegerinya.

Seandainya dulu tanpa Miras, belum tentu Amerika dan Australia mampu sebesar seperti sekarang ini, karena pasti akan ada perlawanan signifikan dari pribumi, kaum pemilik tanah.

Hal lain, bahwa investasi dan budaya adalah dua diksi yang boleh disandingkan namun tidak bisa disatukan dalam satu kebijakan. Mengapa begitu, investasi itu soal materi, profit, untung rugi dan lain sebagainya. Sedang budaya atau kearifan lokal tentang nilai – nilai. Keduanya berbeda dimensi. Memaksakan dua unsur beda dimensi dalam satu tarikan napas, maka ibarat menyatukan minyak dan air. Selain tak mungkin menyatu, juga pekerjaan sia – sia.

Di Gorontalo sendiri, beberapa waktu lalu minuman keras/ minuman beralkohol berdasarkan data yang ada di Kepolisian, sangat tinggi tingkat peredarannya terutama Miras yang berbahan dasar aren (Cap Tikus). “Ya, miras masuk dalam kelompok candu, karena dapat mengakibatkan efek halusinogen/mabok”. Hal ini tentunya didukung karena banyaknya pohon aren di wilayah Gorontalo dan tentunya adanya kreatifitas masyarakat era lalu, untuk memanfaatkan air aren itu sendiri yang mungkin kurang memikirkan dampak negatifnya di era mendatang, didukung saat itu Gorontalo adalah bagian wilayah Sulawesi Utara di mana Cap Tikus membudaya, padahal ternyata pohon aren ini masih mempunyai manfaat yang lebih banyak dan bernilai positif, misalnya diolah jadi gula aren yang menyehatkan, gula semut atau hand sanitizer/anti septik semprot pencegah penularan covid-19.

Demikian pula dalam hal peredaran gelap narkoba, memang di Gorontalo ini secara grafik mungkin rendah dibanding daerah lain atau ibu kota negara. Namun jika ditarik sedikit ke filosofis sejarah bahwa Gorontalo yang digadang sebagai serambi Madinah, maka sangat disayangkan jika narkoba harus beredar meski dengan grafik yang rendah itu. Bagaimana tidak jika yang kerap kali tertangkap pengedarnya adalah putra-putra Gorontalo yang masih berumur potensial untuk berkiprah di pembangunan daerah, ditambah mereka juga  mempunyai anak, istri dan keluarga yang harus dihidupi olehnya. Sementara beberapa pasal dalam Undang-Undang no 35 Tahun 2009 tentang narkotika mengatur ancaman hukuman minimal 4 (Empat) tahun bagi pelanggarnya.

Terakhir, apapun narasinya — bahwa Miras, Narkoba dan Candu adalah SARANA TERMURAH merusak bangsa.

Bangkitkan jiwamu, bangun negerimu, manfaatkan sumber daya alam daerahmu. (***)

 

Kompol Dhanang Bagus. A SIK, MH

Kasubdit 1 Ditnarkoba Polda Gorontalo

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *