Dir Narkoba Polda Gorontalo, Kombes Pol. Witarsa Aji,S.I.K,S.H,M.H saat memanjat pohon aren yang nantinya akan dibuatkan gula.

Jurnal Celebes.id, GORONTALO – Pemberantasan minuman keras (Miras) terus dilakukan oleh aparat penegak hukum. Namun di Gorontalo, bahan dasar pembuatan minuman keras (Miras) dari air nira (Pohon Enau atau Pohon Aren), malah dilegalkan. Bahkan yang melegalkannya tak sembarangan orang, melainkan Direktur Narkoba Polda Gorontalo, Kombes Pol. Witarsa Aji,S.H,S.I.K,M.H.

Meski demikian, bahan dasar pembuatan Miras dengan bahan dasar air nira tersebut, bukan untuk dibuatkan Miras jenis cap tikus (CT), akan tetapi dikelola menjadi gula merah atau gula aren, yang memiliki kualitas lebih baik.

 

Masyarakat yang sebelumnya membuat Miras jenis cap tikus yang berbahan dasar air nira, kini mulai mengelola gula aren.

Ide pengelolaan gula aren tersebut bermula ketika banyaknya peredaran Miras jenis Cap Tikus di Gorontalo. Bahkan, pada 2020 lalu, Polda Gorontalo telah memusnahkan kurang lebih 100 ton Miras jenis Cap Tikus. Pemusnahan itu pun membuat miris Dir Narkoba Polda Gorontalo, karena yang dimusnahkan tersebut bisa dibilang adalah uang, yang jumlahnya tidak lah sedikit. Didasari oleh hal tersebut, Dir Narkoba, Kombes Pol. Witarsa Aji,S.H,S.I.K,M.H kemudian berinisiatif untuk bagaimana bisa merubah mindset masyarakat, agar tidak memproduksi lagi yang namanya Miras jenis cap tikus ini. Selain berdampak pada kesehatan, hal tersebut pula bisa memberikan dampak buruk terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Ini dikarenakan, tidak sedikit persoalan yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi Miras. Mulai dari pemerkosaan, penganiayaan, hingga pembunuhan.

“Waktu pemusnahan Miras, saya sempat geleng kepala. Yang kita musnahkan ini adalah uang. Uang yang jumlahnya cukup besar. Namun uang ini haram, karena dihasilkan dari pengelolaan dan penjualan Miras. Dari situlah saya berfikir, bagaimana agar masyarakat tidak lagi memproduksi Miras jenis cap tikus dan bisa merubah mindset mereka, agar bisa mengelola sumber daya alam (SDA) berupa pohon aren ini, untuk hal yang lebih baik, lebih bermanfaat, memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, ketimbang harus memproduksi Miras,” jelas Alumnus Akpol 1997 ini.

Lanjut kata Kombes Pol. Witarsa Aji,S.H,S.I.K,M.H, dirinya kemudian melakukan survey di lapangan dan melihat ada banyak pohon aren, yang oleh sebahagian masyarakat, dikelola untuk membuat Miras jenis cap tikus. Setelah itu, masyarakat kemudian diedukasi agar merubah pola pikir mereka, di mana yang tadinya memproduksi Miras jenis Cap Tikus, agar beralih pada pengelolaan gula aren, yang memiliki kualitas lebih baik dari biasanya. Bagi yang tidak ingin berubah, maka Polda Gorontalo tidak segan-segan melakukan penangkapan dan memproses mereka yang melanggar hukum, khususnya yang mengelola Miras jenis Cap Tikus.

“Ada beberapa yang tidak mau beralih pada pekerjaan yang halal dan meningkatkan ekonomi, yah kami sikat. Kami ingin agar masyarakat Gorontalo menuju kepada hal yang baik. Apalagi Gorontalo merupakan Serambi Madinah. Jadi, kalau tidak ada yang mau, kami akan eksekusi secara adat, dimana yang namanya Miras, jenis apapun itu, akan kami proses sesuai dengan hukum,” tegasnya.

Ditambahkan oleh mantan Kapolres Enrekang, Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) ini, dengan pengelolaan pohon aren dengan baik dan benar, sebenarnya masyarakat bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik. Bahkan hal ini bisa lebih meningkatkan perekonomian masyarakat, apabila mereka mengetahui cara mengelolanya dengan baik.

“Oleh karena itu, saya berharap agar kiranya masyarakat berhenti mengelola pohon aren ini untuk dijadikan Miras. Sebaliknya, mari kita kelola pohon aren ini untuk sesuatu yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Semoga upaya kami ini, bisa memberikan manfaat untuk masyarakat, dan tidak ada lagi yang memproduksi yang namanya Miras di Gorontalo. Apalagi daerah ini adalah Serambi Madinah,” harapnya. (Jurnal 01)

Bagikan :

Jurnalis Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *